Story

Analisis: Lima Faktor yang Menahan Lonjakan Harga Minyak di Tengah Konflik AS-Iran

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 20, 20262 min read
Analisis: Lima Faktor yang Menahan Lonjakan Harga Minyak di Tengah Konflik AS-Iran

Summary

Meskipun konflik AS-Iran telah berlangsung selama lima bulan, kombinasi dari peningkatan produksi AS, penurunan permintaan Tiongkok, dan keengganan pasar telah mencegah lonjakan harga minyak yang ekstrem seperti yang diprediksi.

Text size
Background

Meskipun konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung selama lima bulan, harga minyak mentah secara mengejutkan tidak melonjak ke level yang dikhawatirkan banyak analis. Prediksi harga mencapai $150 hingga $200 per barel tidak terwujud, dengan minyak mentah Brent mencapai puncaknya di sekitar $126 sebelum kembali ke level pra-konflik.

Sejumlah faktor fundamental dan psikologis di pasar global telah berkontribusi meredam volatilitas harga, meskipun terjadi gangguan pada rute pengiriman vital di Selat Hormuz.

Faktor Penawaran dan Permintaan

Keseimbangan pasar global secara tak terduga ditopang oleh dua pemain utama di sisi penawaran dan permintaan.

  • Peningkatan Produksi AS: Amerika Serikat, sebagai produsen minyak terbesar di dunia, secara signifikan meningkatkan produksinya hingga mencapai rekor 13,93 juta barel per hari pada bulan April. Selain itu, AS melepas cadangan dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) sebagai bagian dari pelepasan terkoordinasi oleh Badan Energi Internasional (IEA) sebesar 400 juta barel.
  • Permintaan Tiongkok Menurun: Kejutan terbesar datang dari Tiongkok, importir minyak terbesar di dunia. Negara tersebut memangkas impor minyak mentahnya ke level terendah dalam hampir satu dekade pada bulan Juni, yang secara signifikan mengurangi tekanan permintaan global.

Psikologi Pasar dan Pasokan Alternatif

Sample IUX Markets – In-articleAd

Selain fundamental, sentimen pasar dan logistik alternatif juga memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas harga.

  • Keengganan Investor: Pernyataan berulang kali dari Presiden AS Donald Trump mengenai potensi kesepakatan damai membuat para pelaku pasar enggan mengambil posisi beli (long) yang besar. Menurut Ilia Bouchouev dari Oxford Institute for Energy Studies, "Semua orang bersikap bullish, tetapi tidak ada yang berani mengambil posisi long." Hal ini menyebabkan likuiditas pasar menurun dan membatasi spekulasi kenaikan harga.
  • Rute Alternatif Hormuz: Untuk mengimbangi gangguan di Selat Hormuz, Arab Saudi secara tajam meningkatkan pengiriman dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Langkah ini membantu memastikan pasokan dari produsen Teluk tetap mengalir ke pasar global.

Pasokan Fisik yang Melimpah

Para pedagang melaporkan bahwa pasokan kargo minyak fisik yang tersedia untuk pengiriman segera (prompt) masih melimpah. Hal ini membatasi reaksi harga terhadap eskalasi konflik lebih lanjut. Indikator pasar, seperti diferensial minyak mentah Laut Utara Forties yang menjadi acuan patokan Brent, telah turun dari premium rekor pada bulan April menjadi diskon.

"Ada banyak minyak mentah yang tersedia untuk saat ini," kata trader veteran Adi Imsirovic, seperti dikutip oleh Reuters. Namun, ia memperingatkan, "Kondisi ini mungkin tidak akan bertahan lama!"

Back to latest news

LATEST