Story
JPMorgan: Arah Harga Minyak Sulit Diprediksi di Tengah Ketidakpastian Perang

Summary
Analis JPMorgan merevisi pandangan mereka terhadap pasar minyak, menyatakan asumsi "gangguan pasokan sementara" tidak lagi valid karena konflik di Timur Tengah menjadi semakin tidak dapat diprediksi.
Analis minyak di JPMorgan secara terbuka menyatakan pandangan yang telah lama menjadi perbincangan para pelaku pasar: setelah lebih dari enam bulan perang di Iran, jalur menuju akhir konflik menjadi semakin tidak dapat diprediksi. Asumsi awal bahwa gangguan pasokan hanya bersifat sementara kini menghadapi tantangan serius.
Asumsi Pasar Mulai Bergeser
Dalam sebuah laporan yang dikutip secara luas, analis senior JPMorgan, termasuk Natasha Kaneva, menyatakan bahwa beberapa "batas merah" ekonomi yang sebelumnya diasumsikan tidak akan dilanggar oleh pemerintah AS—seperti harga minyak di atas $100 per barel dan imbal hasil obligasi AS yang melonjak—kini telah terlampaui. Namun, hal ini tidak menghasilkan jalur de-eskalasi yang jelas.
JPMorgan menilai asumsi bahwa gangguan pasokan hanya sementara menjadi "semakin sulit dipertahankan." Risiko energi di Timur Tengah telah meluas dari sekadar pembatasan lalu lintas selat menjadi kerusakan pada rute transportasi alternatif itu sendiri, seperti yang terjadi pada jalur pipa utama Arab Saudi.
Premi Risiko dan Dinamika Harga
Harga minyak mentah telah bergejolak sejak perang meletus. Berdasarkan data Investing.com, harga Brent dan WTI telah melonjak masing-masing sekitar 44,6% dan 52,1% sejak 27 Februari hingga 17 September. Penurunan harga baru-baru ini lebih mencerminkan ekspektasi pemulihan sebagian pasokan, bukan hilangnya risiko perang.
JPMorgan memperkirakan nilai wajar minyak pada bulan September berada di sekitar $90 per barel. Namun, harga pasar yang mendekati $106 per barel menunjukkan bahwa pasar telah memperhitungkan premi risiko yang signifikan. Menurut mereka, selisih ini mencerminkan kemungkinan adanya gangguan pasokan tambahan sebesar 4 juta barel per hari, di luar 10 juta barel per hari yang sudah terganggu.
AdBeberapa insiden yang memperburuk situasi antara lain:
- Kerusakan pada tiga stasiun pompa di jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi, yang menghentikan aliran sekitar 4 hingga 5 juta barel per hari.
- Serangan berkelanjutan di sekitar Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz.
Perbedaan Pandangan di Wall Street
Perbedaan proyeksi di antara bank-bank investasi besar di Wall Street menyoroti ketidakpastian mengenai waktu pemulihan pasokan. Perbedaan ini pada dasarnya mencerminkan estimasi yang berbeda tentang "kapan dan berapa banyak" pasokan minyak internasional dari Teluk akan pulih.
- Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Brent dan WTI untuk Desember 2026 masing-masing sebesar $5, dengan asumsi produksi Teluk pada 2027 masih akan lebih rendah 500.000 barel per hari dibandingkan sebelum perang.
- Citigroup mempertahankan proyeksi harga Brent yang lebih rendah untuk kuartal keempat sebesar $70, dengan asumsi Selat Hormuz akan dibuka kembali pada periode tersebut.
JPMorgan sendiri memperkirakan jika aliran pasokan dari Timur Tengah tetap pada level saat ini, harga minyak pada kuartal keempat dan Desember 2026 bisa menjadi $7 dan $8 lebih tinggi dari perkiraan mereka sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan dari biaya energi dan inflasi dapat bertahan lebih lama dari yang diperkirakan semula.