Story
Hotel-hotel Mewah di China Beralih ke Makanan Hemat Biaya karena Pemesanan Korporat Menurun

Summary
Menghadapi penurunan tajam dalam bisnis konferensi dan perjamuan yang menguntungkan, jaringan hotel besar di Tiongkok, termasuk Marriott dan Hilton, meluncurkan makanan siap saji berbiaya rendah untuk memanfaatkan dapur yang menganggur dan menangkap aliran pendapatan baru.
Hotel-hotel berbintang di seluruh Tiongkok beralih ke sumber pendapatan yang tidak terduga: makan siang kemasan murah dan makanan jalanan. Pergeseran strategis ini terjadi ketika industri perhotelan bergulat dengan penurunan signifikan dalam bisnis tradisionalnya yang bermargin tinggi dari perjamuan perusahaan, konferensi, dan pernikahan.
Sebuah unggahan media sosial yang viral baru-baru ini menunjukkan menu makanan siap saji dari Hotel Shenyang Marriott yang menawarkan hidangan seperti Ayam Gong Bao dengan nasi hanya seharga 12 yuan (sekitar $1,65). Ini adalah bagian dari tren yang lebih luas yang dimulai pada tahun 2025, dengan merek internasional seperti Hilton dan InterContinental meluncurkan pilihan makanan terjangkau untuk menarik konsumen lokal.
Respons terhadap Tantangan Pasar
Langkah ini merupakan respons langsung terhadap kondisi pasar yang memburuk. Menurut laporan tahun 2025 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Tiongkok, hotel-hotel berbintang di negara itu mengalami penurunan total pendapatan tahunan sebesar 10,9 miliar yuan dari tahun sebelumnya, sementara tingkat hunian rata-rata turun sebesar 2,4 poin persentase menjadi 46,8%.
Salah satu pendorong utama penurunan ini adalah lemahnya permintaan dari sektor korporat dan acara. Laporan kuartal kedua tahun 2026 dari perusahaan konsultan perhotelan Horwath HTL mencatat bahwa permintaan dari segmen bisnis dan konferensi tetap lemah, memaksa hotel untuk lebih bergantung pada wisatawan rekreasi yang seringkali lebih sensitif terhadap harga makanan.
Tekanan finansial ini terlihat jelas dalam laporan keuangan perusahaan. Menurut *Consumer Report*, Jinjiang Hotels (600754.SH) mengalami penurunan pendapatan makanan dan minuman sebesar 13,05% dari tahun ke tahun pada tahun 2025. Demikian pula, pendapatan makanan dan minuman BTG Homeinns Hotels turun sebesar 5,78% selama periode yang sama.
AdStrategi dan Keberlanjutan Jangka Panjang
Dengan menawarkan makanan hemat, hotel bertujuan untuk memonetisasi kapasitas dapur yang menganggur dan memanfaatkan daya beli massal mereka untuk bahan-bahan. Strategi ini menggeser fokus dari melayani tamu yang menginap ke bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar makanan siap saji dan pesan antar lokal.
Namun, profitabilitas jangka panjang dari model ini tetap menjadi pertanyaan kunci bagi investor. Tantangan signifikan adalah menutupi biaya tenaga kerja yang tinggi, yang menurut Asosiasi Hotel Pariwisata Tiongkok dapat mencapai 25% hingga 35% dari total pendapatan hotel, dengan produk yang bermargin rendah. Sensasi membeli makanan murah dari merek mewah telah menciptakan kehebohan awal, tetapi mempertahankan minat pelanggan akan sulit.
Pada akhirnya, ketika rasa penasaran awal memudar, kesuksesan akan bergantung pada konsistensi dalam memberikan kualitas dan nilai. Untuk bersaing dengan restoran lokal yang sudah mapan, usaha hotel ini harus membangun kepercayaan merek berdasarkan produk mereka, bukan hanya nama bergengsi mereka.