Story
Mengapa Harga Minyak Mentah Tertahan di Bawah $100 Meski Pasokan Terganggu?

Summary
Meskipun terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu ekspor, harga minyak mentah Brent tetap di bawah $100 per barel. Faktor-faktor seperti rute pasokan alternatif, peningkatan produksi non-OPEC, dan pelemahan permintaan global menjadi penyeimbang utama.
Patokan minyak global, Brent, telah menguat bulan ini namun tetap diperdagangkan di bawah level psikologis $100 per barel. Harga ini bertahan meskipun eskalasi konflik AS-Iran baru-baru ini telah mengganggu ekspor dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz dan Laut Merah.
Menurut Argus, pengiriman minyak mentah dari produsen Timur Tengah saat ini berada di sekitar 11 juta barel per hari (bpd), turun signifikan dari 18 juta bpd sebelum konflik dimulai tujuh bulan lalu. Namun, kombinasi beberapa faktor telah mencegah lonjakan harga yang lebih drastis.
Rute Alternatif dan Aliran Pasokan
Meskipun terjadi gangguan, sejumlah volume minyak yang signifikan masih berhasil mengalir melalui Selat Hormuz. Claudio Galimberti, Kepala Ekonom di Rystad Energy, menyatakan bahwa rata-rata pergerakan harian masih berada di sekitar 4 hingga 5 juta barel, yang menempatkan harga wajar Brent di level $95 per barel.
Produsen-produsen Teluk juga telah secara aktif menggunakan rute alternatif dan transfer antar-kapal (ship-to-ship) di luar Hormuz untuk memitigasi kekurangan pasokan. Ekspor melalui pelabuhan alternatif seperti Sidi Kerir di Mesir, misalnya, meningkat lebih dari dua kali lipat pada bulan Agustus dibandingkan volume bulan Juni. Produsen besar seperti Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait juga telah berhasil memulihkan volume ekspor mereka mendekati level normal.
Peningkatan Produksi Non-OPEC dan Pelemahan Permintaan
AdKekurangan pasokan dari Timur Tengah sebagian diisi oleh produsen non-OPEC. Menurut Jarand Rystad, pendiri Rystad Energy, produsen seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Guyana diperkirakan akan meningkatkan produksi gabungan sebesar 1,4 juta bpd tahun ini. Sementara itu, ekspor minyak mentah Rusia tetap stabil di sekitar 5,5 juta bpd pada Juli dan Agustus.
Di sisi lain, terjadi "penghancuran permintaan" (demand destruction) yang signifikan, terutama dari sektor petrokimia dan bahan bakar transportasi. Rystad Energy memperkirakan penurunan permintaan mencapai 3,5 juta bpd pada kuartal ketiga. China, sebagai importir minyak terbesar dunia, menyumbang lebih dari separuh penurunan ini akibat meningkatnya elektrifikasi transportasi dan penggunaan bahan kimia berbasis batu bara. Cadangan minyak strategis Beijing yang besar, diperkirakan oleh Kpler mencapai 1,17 miliar barel, juga memberikan sentimen penenang bagi pasar.
Sinyal Berbeda dari Pasar Fisik
Meskipun harga acuan (futures) tertahan, pasar fisik menunjukkan gambaran yang berbeda. Premi spot untuk minyak mentah Dubai dan Oman telah pulih ke level April, diperdagangkan $19 hingga $20 per barel di atas kuotasi Dubai. Hal ini menandakan kondisi pasokan yang sangat ketat di pasar riil.
"Saat ini, pasar fisik memberitahu kita bahwa situasinya sangat ketat," kata David Fyfe, kepala ekonom di Argus. "Pasar diesel bahkan 'menjeritkan' kekurangan pasokan." Kondisi ini mendorong beberapa bank investasi untuk menaikkan proyeksi harga mereka. Morgan Stanley memperkirakan Brent akan mencapai rata-rata $100 per barel pada kuartal keempat, sementara Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga untuk Desember 2026 dan 2027, dengan alasan gangguan pengiriman di Timur Tengah akan berlanjut hingga tahun depan.