Story

Perusahaan Logistik Pihak Ketiga Membuka Akses Amazon dan Walmart ke Pasar Afrika

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 15, 20262 min read
Perusahaan Logistik Pihak Ketiga Membuka Akses Amazon dan Walmart ke Pasar Afrika

Summary

Perusahaan jasa penerusan paket menciptakan 'jalur pipa tersembunyi' yang memungkinkan konsumen di Afrika berbelanja dari peritel global seperti Amazon dan Walmart, mengatasi kendala logistik dan pembayaran di benua tersebut.

Text size
Background

Konsumen di Afrika semakin banyak membeli barang dari peritel besar global seperti Amazon atau Walmart, meskipun kedua raksasa tersebut tidak memiliki kehadiran fisik di sebagian besar benua. Fenomena ini dimungkinkan oleh jaringan perusahaan jasa penerusan paket lokal dan asing yang memanfaatkan teknologi untuk mengatasi berbagai tantangan, mulai dari ketiadaan alamat formal hingga keterbatasan akses perbankan.

Cara Kerja Jaringan Logistik Tersembunyi

Perusahaan-perusahaan ini, yang berfungsi sebagai perantara, menyediakan alamat gudang di Amerika Serikat, Eropa, atau Tiongkok kepada pembeli di Afrika. Barang-barang dari berbagai pembelian dapat dikonsolidasikan, dikemas ulang, dan dikirim ke Afrika. Setelah tiba, bea masuk dibayarkan, dan paket diantar ke pelanggan.

Startup asal Senegal, Afrety, adalah salah satu contohnya. Perusahaan ini memungkinkan pembayaran melalui akun uang seluler (*mobile money*) dan menggunakan GPS untuk pengiriman ke alamat yang tidak terstruktur. Menurut CEO Souane Diop kepada Reuters, Afrety yang dimulai pada tahun 2018 kini menangani 4 hingga 5 metrik ton kargo udara dan 2 hingga 3 kontainer kargo laut setiap minggunya.

Pemain yang lebih besar seperti perusahaan logistik global Aramex juga beroperasi di pasar ini. Aramex mengakuisisi MyUS pada tahun 2022 dan juga menjalankan platform Shop and Ship. CEO Grup Aramex, Amadou Diallo, menyatakan bahwa perusahaan bertujuan untuk melayani pelanggan Afrika yang menginginkan pilihan dan merek yang tidak tersedia secara lokal.

Peluang Pertumbuhan dan Tantangan Pasar

Aramex menyebut Afrika Sub-Sahara sebagai salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat dan berencana untuk menggandakan pendapatan dari kawasan tersebut pada tahun 2030. Produk yang paling banyak diminati meliputi elektronik, pakaian, mainan, serta mesin pertanian dan suku cadang mobil.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Namun, pertumbuhan ini memiliki batasan. Menurut konsultan TechCabal Insights, e-commerce di Afrika sebagian besar didorong oleh pusat-pusat ekonomi di kota-kota besar. Meskipun penetrasi internet telah mencapai sekitar 43% dari 1,5 miliar penduduk Afrika, hanya sebagian kecil yang memiliki pendapatan yang cukup untuk berbelanja online.

  • Di Nigeria, mesin ekonomi Afrika Barat, hanya 1 dari 3 pengguna internet yang berbelanja online.
  • Di wilayah yang lebih miskin seperti Afrika Tengah, angkanya hanya sekitar 1 dari 20 orang.

Lanskap Kompetitif dan Pengecualian Afrika Selatan

Afrika Selatan menjadi pengecualian utama. Sebagai ekonomi terkaya di Afrika Sub-Sahara, negara ini mendominasi penggunaan internet dan belanja online. Menurut data Mastercard, volume ritel online di Afrika Selatan telah tumbuh hampir 35% per tahun selama lima tahun terakhir, mencapai sekitar 140 miliar rand ($7,26 miliar) pada tahun 2025.

Pertumbuhan ini menarik kehadiran langsung dari merek-merek besar. Amazon meluncurkan marketplace pertamanya di Afrika Selatan pada tahun 2024, sementara toko-toko bermerek Walmart pertama di Afrika dibuka di Johannesburg pada tahun sebelumnya. Namun, para perantara ini juga menghadapi persaingan dari pemain e-commerce lokal seperti Jumia, yang beroperasi di delapan negara dan bersaing dengan raksasa ritel Tiongkok seperti Temu dan Shein dengan melokalkan layanannya.

Back to latest news

LATEST