Story
Harga Gula Mentah Berjangka Turun karena Penurunan Harga Minyak Membebani Permintaan Etanol

Summary
Harga gula mentah berjangka sedikit turun karena penurunan harga minyak mentah membuat produksi etanol kurang menguntungkan, sehingga mendorong pabrik untuk memproduksi lebih banyak gula. Namun, harga mendapat dukungan dari perkiraan penurunan hasil panen di wilayah penghasil utama.
Harga gula mentah berjangka turun pada hari Rabu, tertekan oleh penurunan harga minyak mentah yang menggeser insentif ekonomi bagi pengolah tebu di negara-negara penghasil utama. Penurunan ini menandakan potensi peningkatan pasokan gula global karena pabrik-pabrik lebih memilih produksi gula daripada biofuel.
Reaksi Pasar
Kontrak gula mentah bulan depan (SBc1) turun 0,3% menjadi 17,88 sen per pon. Harga baru-baru ini turun dari level tertinggi 16 bulan.
Di pasar gula putih, kontrak berjangka Oktober (LSUc1) turun 0,4% menjadi $524,20 per metrik ton. Kontrak sebelumnya (LSUV6) berakhir pada hari Selasa, ditutup turun 0,5% pada $522,30 per metrik ton. Data awal dari para pedagang menunjukkan bahwa total 9.987 lot, setara dengan 499.350 metrik ton, dijadwalkan untuk pengiriman berdasarkan kontrak tersebut.
Kaitan dengan Etanol
Harga minyak yang lebih rendah secara langsung berdampak pada pasar gula dengan mengurangi profitabilitas etanol, bahan bakar nabati yang diproduksi dari tebu. Dinamika ini mendorong pabrik-pabrik, terutama di produsen utama seperti Brasil dan India, untuk mengalihkan sebagian besar hasil panen tebu mereka untuk memproduksi gula kristal daripada bahan bakar.
AdProspek tambahan gula yang memasuki pasar global telah memberikan tekanan ke bawah pada harga berjangka. Pergeseran dalam keputusan pengolahan merupakan faktor penting bagi para pedagang yang memantau keseimbangan penawaran dan permintaan global.
Kekhawatiran Produksi Memberikan Dukungan
Meskipun ada tekanan dari pasar energi, harga gula tetap didukung oleh kekhawatiran mendasar tentang kekurangan produksi di beberapa wilayah utama. Para pedagang menyebutkan ekspektasi penurunan produksi dari India, Uni Eropa, dan Thailand sebagai faktor yang membatasi kerugian yang lebih dalam.
Menurut kementerian pertanian Prancis, negara tersebut diperkirakan akan mengalami panen bit gula terburuk sejak tahun 1970-an karena gelombang panas dan kekeringan yang parah. Sebagai produsen pertanian terbesar di Uni Eropa, kegagalan panen yang signifikan di Prancis dapat memperketat pasokan regional dan global.