Story

Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak, Perkirakan Gejolak Timur Tengah Berlanjut hingga 2027

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Sep 9, 20262 min read
Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak, Perkirakan Gejolak Timur Tengah Berlanjut hingga 2027

Summary

Goldman Sachs merevisi naik proyeksi harga minyak mentah Brent dan WTI untuk 2026 dan 2027, dengan alasan pasar semakin memperhitungkan risiko gangguan pelayaran berkepanjangan di Timur Tengah.

Text size
Background

Goldman Sachs pada hari Minggu merevisi naik proyeksi harga minyak mentah Brent dan WTI, mengantisipasi gangguan pelayaran di Timur Tengah akan berlanjut hingga tahun depan. Bank investasi tersebut menaikkan target harga karena pasar dinilai semakin memperhitungkan risiko dari konflik yang berkelanjutan.

Revisi Proyeksi Harga

Tim analis yang dipimpin oleh Daan Struyven menaikkan proyeksi harga minyak untuk beberapa periode ke depan. Berikut adalah rinciannya:

  • Desember 2026: Proyeksi harga Brent dan WTI masing-masing dinaikkan sebesar $5, menjadi $85 dan $80 per barel.
  • Tahun 2027: Proyeksi harga disesuaikan menjadi $80 untuk Brent dan $75 untuk WTI.

Para analis mencatat bahwa pasar telah menunjukkan sinyal penyesuaian harga. Harga kontrak berjangka (futures) spot Brent telah naik hingga $97, dan probabilitas tersirat dari opsi bahwa Brent akan menembus $100 pada Maret 2027 telah melonjak dari sekitar 6% menjadi sekitar 25% dalam sebulan terakhir.

Faktor Penahan Kenaikan

Sample IUX Markets – In-articleAd

Meski menaikkan proyeksi, Goldman Sachs menyebut kenaikan ini "moderat" karena beberapa faktor penyeimbang. Pertama, stok minyak komersial di negara-negara OECD, yang merupakan pendorong utama harga, "hampir tidak menunjukkan penurunan yang jelas" sejak konflik dimulai. Hal ini mengindikasikan kesenjangan pasokan yang lebih kecil dari perkiraan.

Kedua, Goldman Sachs mengasumsikan bahwa adaptasi pasokan di Timur Tengah akan terus berlanjut. Produksi diperkirakan akan pulih secara bertahap pada paruh kedua tahun 2027 seiring dengan mulai beroperasinya jalur-jalur pipa baru. Selain itu, impor minyak mentah Tiongkok yang sensitif terhadap harga saat ini masih turun sekitar 30% dari tahun ke tahun, yang diperkirakan akan membatasi potensi kenaikan harga.

Analisis Skenario dan Risiko

Goldman Sachs menyatakan bahwa risiko terhadap proyeksi mereka "secara keseluruhan masih condong ke atas secara signifikan, terutama dalam jangka pendek." Dalam skenario optimistis, jika rata-rata produksi di Teluk pada 2027 berada 4 juta barel per hari di bawah level sebelum perang, harga Brent dapat melampaui $120 per barel. Pemicu paling mungkin untuk skenario ini adalah eskalasi serangan pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah.

Sebaliknya, dalam skenario pesimistis, jika produksi di Teluk justru 1 juta barel per hari di atas level sebelum perang, harga Brent bisa jatuh ke kisaran $60-an pada tahun 2027. Di tengah ketidakpastian ini, bank tersebut terus merekomendasikan strategi lindung nilai terhadap risiko geopolitik.

Back to latest news

LATEST