Story

Harga Emas Tertekan The Fed dan Inflasi Energi, Nyaris Lenyapkan Kenaikan Tahunan

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Sep 2, 20262 min read
Harga Emas Tertekan The Fed dan Inflasi Energi, Nyaris Lenyapkan Kenaikan Tahunan

Summary

Sikap hawkish Federal Reserve dan lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik menekan harga emas, menghapus hampir seluruh kenaikan tahunannya. Namun, kekhawatiran defisit fiskal AS menjaga optimisme Wall Street untuk prospek jangka panjang.

Text size
Background

Harga emas spot tergelincir di bawah tekanan ganda dari ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dan lonjakan harga energi, yang menghapus hampir seluruh kenaikan yang dicatatkan sejak awal tahun. Sikap hawkish dari Federal Reserve AS dan eskalasi konflik di Timur Tengah untuk sementara waktu mengalahkan daya tarik emas sebagai aset safe haven.

Tekanan dari Suku Bunga dan Harga Minyak

Sentimen pasar berbalik negatif setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell (disebut sebagai "Wash" dalam sumber asli) dalam simposium Jackson Hole menegaskan bahwa inflasi masih jauh di atas target 2% dan bank sentral "masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan". Pernyataan ini secara signifikan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.

Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September melonjak dari 35,4% menjadi 66%. Hal ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah global ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Data London Stock Exchange Group (LSEG) menunjukkan imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik tajam ke 4,798%, sementara imbal hasil 2-tahun mencapai 4,369%.

Tekanan diperparah oleh eskalasi konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak mentah. Minyak Brent dan WTI sempat melonjak masing-masing 4,6% dan 5,2% pada hari Selasa. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi lebih lanjut, yang pada gilirannya memperkuat argumen bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Bagi emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkatkan *opportunity cost* atau biaya peluang untuk memegangnya.

Dampak Pasar dan Kinerja Emas

Akibat tekanan jual ini, harga emas spot diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (*200-day moving average*), sebuah sinyal teknis penting yang menandakan potensi pelemahan lebih lanjut. Hingga saat ini, kenaikan harga emas spot sepanjang tahun hanya tersisa 0,5%, sementara perak telah anjlok 7,8%.

Sample IUX Markets – In-articleAd

"Kami melihat adanya tekanan jual teknis... imbal hasil obligasi global berada di level tertinggi yang tidak terlihat selama bertahun-tahun. Jadi, semua faktor ini menekan pasar emas," kata Jim Wyckoff, analis senior di American Gold Exchange, dalam sebuah laporan. Ia menambahkan bahwa jalur jangka pendek yang paling mungkin untuk emas adalah pergerakan sideways atau cenderung melemah.

Prospek Jangka Panjang Didukung Kekhawatiran Defisit

Di tengah tekanan jangka pendek, banyak analis Wall Street mempertahankan pandangan bullish untuk emas dalam jangka panjang. Prospek ini didukung oleh empat pilar utama:

  • Defisit fiskal AS yang terus membengkak dan tidak berkelanjutan.
  • Pelemahan daya beli dolar AS dalam jangka panjang.
  • Upaya diversifikasi cadangan oleh bank-bank sentral global yang terus membeli emas.
  • Alokasi emas yang masih sangat rendah dalam portofolio investasi swasta.

Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, kembali memperingatkan tentang kondisi fiskal AS dan merekomendasikan investor untuk menambah porsi emas. Proyeksi dari sejumlah bank besar pun tetap optimistis, dengan beberapa target harga jangka menengah hingga panjang mencapai $5.000 per ons, meskipun memperingatkan potensi volatilitas tajam akibat kebijakan The Fed.

Analis Goldman Sachs mencatat bahwa setiap kenaikan alokasi 0,01% pada emas dalam portofolio keuangan swasta AS dapat menaikkan harga emas sekitar 1,4%. Hal ini menyoroti potensi kenaikan harga yang signifikan jika terjadi pergeseran sentimen menuju aset safe haven akibat kekhawatiran terhadap utang dan mata uang fiat.

Back to latest news

LATEST