Story
Sentimen Bearish Yen Bertahan Kuat di Tengah Risiko Fiskal dan Kebijakan BoJ

Sentimen *short* atau *bearish* investor terhadap yen Jepang tetap mengakar kuat, didorong oleh kombinasi risiko fiskal, persepsi bahwa Bank of Japan (BoJ) tertinggal dalam merespons inflasi, dan tekanan jual struktural yang berkelanjutan. Analisis dari Bank of America Global Research menyoroti faktor-faktor ini sebagai pendorong utama pelemahan mata uang tersebut.
Pendorong Utama Sentimen Bearish
Bank of America (BofA) mengidentifikasi beberapa alasan utama di balik pesimisme pasar terhadap yen:
- Risiko Fiskal: Potensi risiko fiskal di bawah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi menjadi salah satu kekhawatiran utama bagi investor.
- Kebijakan BoJ: Terdapat konsensus pasar bahwa Bank of Japan berada "di belakang kurva" atau lambat dalam menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi.
- Tekanan Jual Struktural: Adanya tekanan jual yen yang bersifat struktural dan terus-menerus membebani nilai tukar.
BofA mencatat bahwa tekanan jual ini sebagian diimbangi oleh aliran modal asing ke pasar Jepang dan permintaan terkait ekspor kecerdasan buatan (AI). Namun, pelemahan yen yang lebih signifikan mungkin disebabkan oleh transaksi lindung nilai mata uang (*currency hedging*) oleh investor asing seiring dengan menguatnya pasar saham Jepang.
Intervensi dan Level Kunci USD/JPY
Pasar cenderung memandang intervensi pembelian yen oleh otoritas Jepang sebagai langkah jangka pendek, mengingat kapasitas mereka dibatasi oleh cadangan devisa yang berjumlah sekitar $1,3 triliun per akhir Juni. Namun, intervensi terkoordinasi antara Jepang dan Amerika Serikat pada 30 Juli lalu telah menantang ekspektasi pasar.
AdPartisipasi AS, yang ditegaskan oleh Menteri Keuangan Scott Bessent bahwa Washington "tidak akan ragu untuk berpartisipasi dalam intervensi gabungan lebih lanjut," mengurangi persepsi mengenai adanya batasan kapasitas intervensi. Secara teknis, level 155 terhadap dolar AS dipandang sebagai level *support* kunci untuk USD/JPY. Level ini menjadi dasar setelah intervensi pada bulan April dan Mei, mendorong strategi "beli saat turun" (*buy-the-dip*) di kalangan investor.
Jika USD/JPY secara meyakinkan menembus ke bawah 155, hal ini dapat mengubah strategi pasar menjadi "jual saat naik" (*sell-the-rally*), karena dapat memicu aksi jual dari eksportir Jepang. Sebaliknya, jika nilai tukar kembali ke atas 160, kepercayaan pasar terhadap efektivitas intervensi dapat goyah. Sementara itu, penurunan di bawah 150 dapat mempercepat penjualan dolar oleh perusahaan Jepang terkait aktivitas lindung nilai.
Proyeksi Analis
Meskipun sentimen saat ini negatif, analis BofA mempertahankan prospek optimistis untuk yen. Mereka memproyeksikan target nilai tukar USD/JPY akan berada di level 152 pada akhir tahun.
Optimisme ini didasarkan pada perbaikan kondisi neraca pembayaran Jepang yang berkelanjutan dan prospek percepatan kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan di masa mendatang.