Story
Pasar Bahan Bakar Kapal Global Hadapi Potensi Kelangkaan di Kuartal Ketiga

Summary
Kelangkaan bahan bakar minyak untuk kapal dan pembangkit listrik diprediksi terjadi pada kuartal ketiga karena kilang-kilang memprioritaskan produksi solar dan produk lain yang lebih menguntungkan di tengah gangguan pasokan akibat konflik.
Pasar global menghadapi potensi kelangkaan bahan bakar minyak (fuel oil) yang digunakan untuk kapal dan pembangkit listrik pada kuartal ketiga. Situasi ini dipicu oleh kilang-kilang minyak yang tertekan oleh gangguan pasokan akibat konflik, sehingga lebih memprioritaskan produksi solar dan produk olahan lainnya yang memiliki margin keuntungan lebih tinggi.
Defisit Pasokan di Depan Mata
Konsultan Energy Aspects memproyeksikan defisit pasokan akan mencapai 218.000 barel per hari (bph) pada kuartal ketiga. Angka ini menandai kekurangan signifikan pertama yang diperkirakan sejak kuartal ketiga 2025, yang saat itu hanya defisit tipis sebesar 6.000 bph.
Prospek serupa juga diungkapkan oleh konsultan Rystad. "Karena gangguan pasokan yang berkepanjangan di Timur Tengah, kami memperkirakan pasokan bahan bakar minyak akan tetap sangat ketat di kuartal ketiga," kata analis Rystad, Valerie Panopio, kepada Reuters. Kelangkaan ini menambah daftar produk olahan seperti bensin, solar, dan bahan bakar jet yang juga kesulitan mengimbangi permintaan.
Kilang Beralih ke Produk Lain
Ketatnya pasokan bahan bakar minyak diperparah oleh keputusan strategis para pengelola kilang. Dengan rekor persediaan bensin dan solar yang rendah, kilang-kilang di seluruh dunia terdorong untuk memaksimalkan produksi produk-produk tersebut guna memanfaatkan margin keuntungan yang lebih besar.
"Persediaan bensin dan solar yang sangat rendah akan mendorong kilang secara global untuk memaksimalkan operasional unit sekunder dengan lebih banyak bahan bakar minyak sebagai bahan baku, yang pada gilirannya akan memperketat neraca bahan bakar minyak," jelas analis Energy Aspects, Royston Huan. Sebagai contoh, kilang Dangote di Nigeria dengan kapasitas 650.000 bph telah meningkatkan ekspor solar dan bahan bakar jet, sementara ekspor bahan bakar minyaknya menurun, menurut data Kpler.
AdDampak pada Harga dan Stok
Tekanan pasokan ini telah tercermin pada tingkat persediaan dan harga. Data yang dihimpun Reuters menunjukkan stok di pusat-pusat utama seperti Singapura, Amsterdam-Rotterdam-Antwerp (ARA), dan Fujairah berada sekitar 30% di bawah rata-rata musiman tiga tahun.
Di Singapura, pusat bunker terbesar di dunia, harga bahan bakar utama untuk kapal, *very low sulphur fuel oil* (VLSFO), telah melonjak 76% sejak dimulainya perang Iran hingga mencapai di bawah $825 per metrik ton per 1 September, menurut data dari ZeroNorth. Kenaikan ini jauh melampaui kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 40% pada periode yang sama. Permintaan juga meningkat karena kapal-kapal menempuh rute yang lebih jauh untuk menghindari ancaman di Laut Merah.
Gangguan Produksi Global
Beberapa faktor utama berkontribusi pada penurunan produksi global:
- Rusia: Serangan pesawat tak berawak Ukraina telah memengaruhi produksi kilang Rusia. Menurut data Kpler, ekspor bahan bakar minyak Rusia pada bulan Agustus mencapai rekor terendah 591.000 bph, turun dari rata-rata di atas 860.000 bph pada tahun 2025.
- Timur Tengah: Ekspor bahan bakar minyak dari kawasan ini turun 45% secara tahunan menjadi rata-rata 447.000 bph pada periode Maret-Agustus. Gangguan operasional terjadi di kilang Al-Zour di Kuwait, salah satu eksportir utama, yang secara drastis mengurangi pengirimannya.