Story
Saham Salesforce Anjlok 35% YTD, Kinerja Terburuk di Indeks Dow Jones pada 2026

Summary
Saham Salesforce (CRM) menjadi saham dengan kinerja terburuk di Dow Jones tahun ini, anjlok lebih dari 35% akibat krisis kepercayaan pada produk AI andalannya dan berbagai tantangan bisnis lainnya.
Saham Salesforce (CRM) telah menjadi komponen Dow Jones dengan kinerja terburuk sepanjang tahun 2026, dengan penurunan tajam sebesar 35,2% secara *year-to-date* (YTD). Pelemahan ini disebabkan oleh krisis kepercayaan investor terhadap produk kecerdasan buatan (AI) andalannya, Agentforce, yang mendorong para analis untuk memangkas target harga dan menurunkan peringkat saham.
Krisis Kepercayaan pada Strategi AI
Penyebab utama anjloknya saham Salesforce adalah narasi AI perusahaan yang dinilai gagal meyakinkan pasar. Perusahaan mempertaruhkan prospek pertumbuhannya pada Agentforce, sebuah platform agen AI otonom, namun para direktur informasi (CIO) di tingkat enterprise memberikan sinyal bahwa produk tersebut belum siap dan data mereka belum terorganisir untuk implementasi yang efektif.
Sentimen negatif ini diperkuat oleh sejumlah lembaga riset:
- KeyBanc pada 9 Juli menurunkan peringkat saham menjadi *Sector Weight*, dengan catatan bahwa data pelanggan "tidak terorganisir untuk pekerjaan AI yang berarti."
- Bernstein juga menurunkan peringkat menjadi *Sector Weight* dan menghapus target harganya, setelah survei CIO menunjukkan lebih banyak pembeli enterprise berencana mengurangi prioritas belanja pada Salesforce selama 12 bulan ke depan.
Tekanan dari Berbagai Arah
Selain kekecewaan pada produk AI, beberapa faktor lain turut membebani kinerja saham Salesforce. Penurunan ini jauh lebih dalam dibandingkan saham Dow lainnya dengan kinerja terburuk kedua, Nike (NKE), yang turun 29,3% YTD.
AdBeberapa tantangan tambahan yang dihadapi perusahaan antara lain:
- Kelemahan Segmen Bisnis: Evercore ISI pada 14 Juli memangkas target harga menjadi $250 dari $260, menyoroti pelemahan spesifik pada segmen Tableau dan Commerce Cloud.
- Evaluasi Ulang Perangkat Lunak Enterprise: Langkah Starbucks untuk membangun alat AI internal sebagai pengganti perangkat lunak dari vendor memicu kekhawatiran pasar dan sempat menekan saham CRM sebesar 4% dalam satu sesi *pre-market*.
- Belanja Modal Agresif: Salesforce mengakuisisi Fin (sebelumnya Intercom) senilai ~$3,6 miliar dan menerbitkan utang $25 miliar untuk mendanai program pembelian kembali saham senilai $50 miliar. Langkah ini menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas alokasi modal perusahaan dalam jangka pendek.
Pandangan Analis Terbelah
Meskipun sentimen pasar cenderung negatif, tidak semua analis bersikap pesimis. Beberapa pihak melihat potensi pemulihan dan valuasi yang menarik. Goldman Sachs mempertahankan peringkat *Buy* dengan target harga $242, mengantisipasi percepatan pertumbuhan organik pada kuartal ketiga.
Sementara itu, Guggenheim baru-baru ini menaikkan peringkat menjadi *Buy* dengan target $228, dengan alasan bahwa narasi pesimis terkait AI sudah "berlebihan." Dengan rasio PEG saat ini di level 0,49, investor dihadapkan pada pertanyaan apakah saham ini merupakan peluang investasi bernilai tinggi (*deep value*) atau justru sebuah jebakan nilai (*value trap*).