Story
Kinerja PepsiCo Melemah, Penjualan Makanan Ringan di Amerika Utara Turun

Summary
PepsiCo melaporkan penurunan penjualan dan volume yang stagnan di bisnis makanan Amerika Utara, menandakan tantangan dari perubahan kebiasaan konsumen yang dipengaruhi oleh tren kesehatan dan obat penurun berat badan.
Upaya pemulihan PepsiCo menghadapi hambatan setelah hasil kuartalan terbarunya menunjukkan pelemahan pada bisnis makanan ringan di pasar utamanya. Pergeseran signifikan dalam kebiasaan konsumen di Amerika, yang kini lebih sadar akan kesehatan dan biaya hidup, menjadi tantangan berat bagi raksasa makanan dan minuman tersebut.
Kinerja Kuartalan Mengecewakan
Dalam laporan untuk kuartal kedua yang berakhir pada 13 Juni, PepsiCo mencatat penurunan penjualan sebesar 2% di bisnis makanan Amerika Utara, yang mencakup merek-merek seperti Frito-Lay. Volume penjualan di divisi ini juga dilaporkan stagnan, sebuah pembalikan dari pemulihan tipis yang terlihat pada kuartal pertama ketika volume sempat tumbuh sekitar 2%.
Data menunjukkan bahwa volume penjualan di bisnis makanan PepsiCo telah turun dalam empat dari enam kuartal terakhir. Pelemahan ini juga terlihat di segmen minuman, di mana volume di Amerika Utara turun 4% pada kuartal terakhir. Angka ini kontras dengan pesaingnya, Coca-Cola, yang tiga bulan sebelumnya melaporkan pertumbuhan volume sebesar 4% di wilayah yang sama.
Pergeseran Tren Konsumen Menjadi Tantangan Utama
Tantangan yang dihadapi PepsiCo berakar pada perubahan perilaku konsumen Amerika. Beberapa faktor utama yang mendorong perubahan ini antara lain:
Ad- Peningkatan biaya hidup yang membuat konsumen lebih selektif dalam berbelanja.
- Tren menuju makanan yang lebih sehat, seperti produk tinggi protein, rendah gula, dan kaya serat.
- Meningkatnya penggunaan obat penurun berat badan GLP-1, yang menurut analisis PwC terhadap data Numerator, telah diadopsi oleh 21% rumah tangga di AS per Mei 2026, naik dari 9% pada Januari 2025.
Suzy Davidkhanian, analis dari eMarketer, menyatakan bahwa konsumen telah beralih dari "ngemil secara otomatis menjadi membuat keputusan yang jauh lebih disengaja tentang apa yang mereka makan." Bagi PepsiCo, yang sekitar 58% pendapatan tahunannya berasal dari merek makanan, pergeseran ini mengancam salah satu mesin pertumbuhan utamanya.
Implikasi Pasar dan Tekanan Investor
Kinerja yang lesu ini tercermin pada harga saham PepsiCo, yang telah turun sekitar 4% sepanjang tahun ini, sementara saham Coca-Cola justru naik lebih dari 20%. Perbedaan kinerja ini kemungkinan akan meningkatkan pengawasan dari investor aktivis Elliott Investment Management, yang telah mengakuisisi saham senilai sekitar $4 miliar dan mendorong perusahaan untuk merevitalisasi bisnisnya.
Para analis berpendapat bahwa pemulihan PepsiCo tidak hanya bergantung pada harga yang terjangkau, tetapi juga pada seberapa cepat perusahaan dapat berinovasi untuk memenuhi permintaan produk fungsional dan relevan. Pihak eksekutif PepsiCo sendiri mengakui bahwa perbaikan di bisnis Amerika Utara kemungkinan akan lebih bertahap dari yang diperkirakan.