Story
Ketua NTSB Desak Kongres AS Sahkan RUU Keselamatan Penerbangan

Summary
Ketua Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) mendesak Kongres AS untuk segera menyelesaikan kebuntuan dan mengesahkan reformasi keselamatan penerbangan, menyusul tabrakan fatal di udara pada tahun 2025.
Ketua Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) AS, Jennifer Homendy, pada hari Senin mendesak Kongres untuk menyelesaikan kebuntuan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dan menyetujui reformasi signifikan dalam keselamatan penerbangan. Desakan ini muncul setelah investigasi terhadap tabrakan fatal di udara yang menyoroti perlunya tindakan legislatif segera.
Latar Belakang Kebuntuan Legislatif
Seruan untuk bertindak ini berakar pada insiden tragis Januari 2025, yaitu tabrakan antara sebuah jet regional American Airlines dan helikopter Angkatan Darat AS yang menewaskan 67 orang. Menurut Homendy, NTSB telah "memberikan peta jalan yang jelas untuk meningkatkan keselamatan penerbangan dan mengurangi risiko tabrakan di udara yang katastrofis lagi. Sekarang adalah waktunya untuk tindakan yang telah dijanjikan berbulan-bulan lalu."
Saat ini, terdapat dua rancangan undang-undang (RUU) yang bersaing:
- RUU versi Dewan Perwakilan Rakyat AS disahkan pada bulan April dengan suara 396-10.
- RUU saingan yang dikenal sebagai ROTOR Act disahkan dengan suara bulat di Senat AS pada bulan Desember, tetapi gagal mendapatkan mayoritas dua pertiga yang diperlukan di DPR untuk lolos melalui jalur cepat.
Temuan Investigasi dan Mandat Teknologi
AdInvestigasi NTSB menyimpulkan bahwa kecelakaan tahun 2025 disebabkan oleh "kegagalan sistemik" oleh Administrasi Penerbangan Federal (FAA). NTSB menemukan bahwa FAA mengizinkan helikopter untuk beroperasi di dekat bandara tanpa pengamanan yang memadai untuk memisahkannya dari pesawat terbang. NTSB juga menyatakan bahwa teknologi seperti ADS-B (Automatic Dependent Surveillance-Broadcast) akan dapat mencegah tabrakan tersebut.
Legislasi yang diusulkan oleh DPR mewajibkan pemasangan teknologi pencegahan tabrakan pada semua pesawat militer pada tahun 2031, kecuali untuk pesawat tempur, pengebom, dan drone. RUU tersebut juga menetapkan persyaratan untuk teknologi mitigasi tabrakan pada pesawat sipil dan helikopter. Negosiasi antara DPR dan Senat untuk menyatukan perbedaan kedua RUU tersebut masih berlangsung.
Sikap FAA dan Implikasi ke Depan
Kepala FAA, Bryan Bedford, menyatakan bahwa pihaknya telah memberikan bantuan teknis kepada Kongres terkait RUU tersebut. Bedford mengindikasikan bahwa FAA dapat bergerak maju dengan penerapan teknologi seperti ADS-B tanpa menunggu arahan Kongres, meskipun ia lebih memilih adanya mandat dari legislator.
"Kesadaran situasional yang lebih cepat dan lebih baik adalah lebih baik daripada menunggu solusi sempurna yang mungkin tidak akan terjadi selama enam atau tujuh tahun," kata Bedford kepada Reuters. Sikap ini menyoroti urgensi untuk meningkatkan keselamatan di ruang udara AS, yang dapat berdampak pada operator maskapai, pabrikan pesawat, dan operasi militer yang perlu berinvestasi dalam teknologi baru.