Story

Morgan Stanley: Penguatan Yen Tak Cukup untuk Memicu Likuidasi 'Carry Trade'

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Sep 11, 20262 min read
Morgan Stanley: Penguatan Yen Tak Cukup untuk Memicu Likuidasi 'Carry Trade'
Text size
Background

Penguatan tajam yen Jepang, yang sempat menyentuh level terkuat dalam tujuh bulan terakhir terhadap dolar AS, telah memicu kekhawatiran di pasar keuangan global. Investor cemas bahwa lonjakan ini dapat memicu pelepasan posisi (unwinding) besar-besaran dari strategi *carry trade* senilai triliunan dolar, yang berpotensi menyebabkan aksi jual di aset-aset pasar berkembang. Namun, dalam sebuah laporan terbaru, tim strategi Morgan Stanley meredakan kekhawatiran tersebut, menyatakan bahwa ketahanan pasar berkembang masih kuat.

Analisis Morgan Stanley: Volatilitas Adalah Kunci

Menurut laporan Morgan Stanley tertanggal 8 September yang dipimpin oleh James Lord, Kepala Strategi Valas dan Pasar Berkembang Global, penguatan yen semata tidak mungkin merusak strategi *carry trade* di pasar berkembang. Para analis berpendapat bahwa katalisator yang sesungguhnya adalah peningkatan volatilitas pasar secara keseluruhan, bukan pergerakan satu mata uang saja.

Tim strategi tersebut menekankan tiga pilar utama yang menopang daya tarik pasar berkembang:

  • Fundamental yang solid: Kondisi fundamental di masing-masing negara pasar berkembang tetap kuat.
  • Imbal hasil yang tinggi: Selisih imbal hasil (*carry yield*) yang ditawarkan masih menarik bagi investor.
  • Pertumbuhan global yang stabil: Momentum pertumbuhan ekonomi global yang tangguh mendukung minat investor untuk tetap berada di pasar berkembang.

"Prospek pertumbuhan global, kinerja pasar saham global, dan tren fundamental di negara-negara berkembang utama memiliki dampak yang lebih signifikan terhadap kinerja *carry trade* pasar berkembang daripada pergerakan yen," tulis para analis dalam laporannya.

Pemicu di Balik Reli Yen

Sample IUX Markets – In-articleAd

Lonjakan yen baru-baru ini didorong oleh ekspektasi pasar yang meningkat tajam terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Bank of Japan (BoJ). Pasar *interest rate swap* menunjukkan probabilitas 98% untuk kenaikan suku bunga pada bulan September. Hal ini diperkuat oleh imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun yang menembus 3%, level tertinggi dalam hampir 30 tahun.

Sejak mencapai level terendah dalam 40 tahun di dekat 164 per dolar AS pada awal bulan lalu, yen telah terapresiasi sekitar 7%. Penembusan level psikologis penting 155 per dolar memicu serangkaian perintah *stop-loss*, yang mempercepat laju penguatan mata uang tersebut.

Tanda Ketahanan dan Risiko yang Tersisa

Morgan Stanley menunjuk pada beberapa bukti yang mendukung tesis ketahanan mereka. Sejak 29 Juli, real Brasil dan peso Kolombia masing-masing telah melemah 5,1% dan 3,4% terhadap yen. Namun, dalam periode yang sama, kedua mata uang tersebut justru menguat 0,7% dan 2,4% terhadap dolar AS. Ini menunjukkan bahwa pelemahan tersebut lebih mencerminkan kekuatan yen itu sendiri daripada aksi jual aset pasar berkembang secara luas.

Meski demikian, risiko tetap ada. Sejarah pada Agustus 2024 menunjukkan bagaimana apresiasi yen yang cepat dapat memicu likuidasi *carry trade* secara masif, yang saat itu menyebabkan indeks Topix anjlok 12% dalam satu hari. Selain itu, posisi yang padat di sektor tertentu, seperti saham semikonduktor AI, dapat menjadi titik lemah jika terjadi penjualan paksa.

Sebagai kesimpulan, Morgan Stanley mempertahankan rekomendasi "beli saat turun" (*buy the dip*) untuk pasar berkembang, dengan keyakinan bahwa fundamental yang kuat dan imbal hasil yang menarik akan terus menopang minat investor. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa jika penguatan yen terus berlanjut dan memicu volatilitas pasar global, risiko likuidasi *carry trade* dapat kembali meningkat.

Back to latest news

LATEST