Story

Yen Melonjak Tertajam Sejak Intervensi, JPMorgan Soroti Risiko Jual Massal di Bawah Level 155

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Sep 4, 20262 min read
Yen Melonjak Tertajam Sejak Intervensi, JPMorgan Soroti Risiko Jual Massal di Bawah Level 155
Text size
Background

Yen Jepang mencatat kenaikan harian terbesar sejak intervensi gabungan pada akhir Juli, mendorong para analis untuk menyoroti level teknis krusial. JPMorgan memperingatkan bahwa jika pasangan mata uang dolar-yen (USD/JPY) menembus di bawah level 155, hal itu dapat memicu aksi jual berantai dari posisi spekulatif.

Peringatan JPMorgan dan Potensi Jual Massal

Dalam sebuah laporan, para strategi JPMorgan, termasuk Junya Tanase, memperingatkan bahwa penembusan level 155 dapat memaksa likuidasi posisi jual (short) yen yang masih sangat besar. Bank investasi tersebut memperkirakan masih ada sekitar ¥16 triliun hingga ¥17 triliun (sekitar $102,6 miliar) posisi jual yen yang terbuka di pasar.

"Jika USD/JPY jatuh di bawah 155, risiko aksi jual yang memicu lebih banyak penjualan, sehingga mendorong kenaikan yen di luar ekspektasi, tidak dapat dikesampingkan," tulis para strategi tersebut. Secara teoretis, JPMorgan menghitung bahwa penutupan penuh semua posisi jual ini berpotensi menekan USD/JPY hingga ke kisaran 142 hingga 146.

Meski demikian, JPMorgan juga mencatat bahwa probabilitas penurunan tajam di bawah rentang 155-165 dalam jangka pendek tidak tinggi. Alasannya, ekspektasi pasar saat ini terkait penyesuaian alokasi aset Dana Investasi Pensiun Pemerintah (GPIF) Jepang dan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) yang lebih cepat "tampak sedikit berlebihan".

Katalis di Balik Reli Mendadak Yen

Sample IUX Markets – In-articleAd

Reli tajam yen pada hari Kamis dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, yang kemudian diperkuat oleh penutupan posisi jual (*short covering*).

  • Spekulasi Kebijakan GPIF: Beredar rumor bahwa dana pensiun terbesar di Jepang mungkin akan meningkatkan target alokasi untuk obligasi domestik, sebuah langkah yang diinterpretasikan sebagai pendorong permintaan yen.
  • Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BoJ: Komentar dari anggota dewan BoJ, Hajime Takata, yang menyebutkan kemungkinan kenaikan suku bunga berturut-turut telah memperkuat spekulasi. Pasar swap kini hampir sepenuhnya memperhitungkan kenaikan 25 basis poin pada pertemuan BoJ 18 September.
  • Pelemahan Dolar AS: Pernyataan *dovish* dari Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengenai kemajuan inflasi menekan dolar AS, dengan indeks dolar turun ke level terendah sejak Mei.
  • Aliran Dana Spekulatif: Menurut Wells Fargo, kenaikan yen diperbesar oleh aksi *short covering* oleh para spekulan dan permintaan lindung nilai (*hedging*) dari investor domestik.

Konteks Pasar dan Fokus pada Rapat BoJ

Penguatan yen terjadi setelah otoritas Jepang menghabiskan rekor $96,4 miliar selama sebulan terakhir untuk menopang mata uangnya pasca-intervensi gabungan pada akhir Juli. Sikap pejabat juga mengeras, dengan pejabat valuta asing tertinggi Jepang, Atsushi Mimura, berjanji "akan terus berjuang di pasar valuta asing".

Fokus pasar kini beralih ke pertemuan kebijakan Bank of Japan pada 18 September, di tengah meningkatnya tekanan dari pejabat AS agar Jepang menaikkan suku bunga. Namun, beberapa analis tetap berhati-hati. Hideaki Minami dari Mizuho Bank mengatakan bahwa masih "terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tren depresiasi yen telah berbalik" hanya berdasarkan pergerakan satu hari.

Back to latest news

LATEST