Story

JPMorgan Tempatkan Anglo American dalam Daftar Pantau Katalis Negatif Jelang Laporan Kinerja Q2

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 10, 20262 min read
JPMorgan Tempatkan Anglo American dalam Daftar Pantau Katalis Negatif Jelang Laporan Kinerja Q2

Summary

Bank investasi tersebut menyoroti peningkatan risiko biaya dan potensi kinerja yang lebih rendah dari perkiraan konsensus, seraya menegaskan kembali peringkat 'Underweight' untuk saham raksasa tambang tersebut.

Text size
Background

JPMorgan telah menempatkan raksasa pertambangan Anglo American (AAL) dalam daftar "Negative Catalyst Watch" menjelang rilis laporan produksi kuartal kedua (Q2) pada 23 Juli. Bank investasi ini menegaskan kembali peringkat "Underweight" untuk saham tersebut, mengutip meningkatnya risiko biaya yang dapat menekan kinerja perusahaan.

Proyeksi Kinerja di Bawah Konsensus

Analis JPMorgan memproyeksikan Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) Anglo American untuk semester pertama akan mencapai $3,8 miliar. Angka ini berada 6% di bawah konsensus Bloomberg yang sebesar $4,0 miliar.

Perbedaan proyeksi ini didasari oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Realisasi harga bijih besi yang lebih lemah dari perkiraan.
  • Kinerja pendapatan yang lesu dari segmen berlian melalui De Beers.
  • Inflasi biaya operasional yang meluas di seluruh grup perusahaan.

Rincian Risiko Biaya dan Operasional

Sample IUX Markets – In-articleAd

JPMorgan secara spesifik menyoroti beberapa tantangan biaya. Tarif angkutan laut dari Brasil ke Tiongkok untuk tambang Minas Rio tercatat naik sekitar $15 per ton pada kuartal kedua. Selain itu, pengalihan volume penjualan dari pelanggan di Timur Tengah ke Eropa dan Tiongkok berpotensi menghasilkan harga jual yang lebih rendah.

Pasar berlian juga menjadi perhatian utama, di mana JPMorgan memprediksi De Beers akan mencatat kerugian EBITDA sebesar $217 juta di tengah kondisi pasar yang lemah. Bank tersebut juga menandai potensi penangguhan pabrik desalinasi Collahuasi sebagai "risiko ekor" (tail risk), di mana penghentian operasi yang berkepanjangan dapat berdampak signifikan terhadap pemulihan produksi tembaga.

Konteks Sektor Pertambangan Eropa

Langkah ini sejalan dengan pandangan JPMorgan yang lebih berhati-hati terhadap sektor perusahaan tambang terdiversifikasi di Eropa sejak bulan Maret. Bank tersebut mengantisipasi bahwa guncangan harga energi akan diserap melalui perlambatan pertumbuhan ekonomi, penurunan harga logam, dan inflasi biaya bagi para penambang.

Menurut catatan JPMorgan, sektor pertambangan dan logam telah berkinerja di bawah indeks MSCI Europe sebesar 7% sejak Maret, dan anjlok 20% sejak Juni. Sebagai perbandingan, indeks yang lebih luas tersebut justru mencatatkan kenaikan 2% dalam periode yang sama sejak Juni.

Back to latest news

LATEST