Story
Harga Gas Eropa Melonjak Pekan Keempat Berturut-turut di Tengah Krisis Selat Hormuz

Summary
Kontrak acuan gas alam Eropa bersiap untuk kenaikan mingguan keempat, mencapai level tertinggi sejak 2023, karena ketegangan militer di Selat Hormuz mengancam pasokan LNG global dan memicu kekhawatiran inflasi.
Harga kontrak berjangka (futures) gas alam Eropa naik tipis pada hari Jumat, mengarah pada kenaikan mingguan untuk empat pekan berturut-turut. Harga telah melampaui level tertinggi sejak konflik geopolitik besar dimulai dan mencapai puncaknya di tahun 2023, didorong oleh premi risiko yang meningkat tajam akibat ketegangan di Timur Tengah.
Eskalasi Geopolitik Memicu Kenaikan
Kenaikan harga selama beberapa minggu terakhir mencerminkan premi risiko geopolitik yang tertanam kuat di pasar. Serangan militer langsung AS terhadap Iran secara efektif telah melumpuhkan lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz, jalur vital yang menyumbang sekitar 20% dari pasokan gas alam cair (LNG) global, terutama dari produsen utama Qatar.
- Kontrak acuan bulan depan di bursa TTF Belanda diperdagangkan di sekitar €72,50 per megawatt-hour (MWh), dengan potensi kenaikan lebih dari 8% untuk pekan ini.
- Di Inggris, kontrak grosir NBP yang setara juga menguat, berada di sekitar 179 pence per therm, naik lebih dari 9% dalam sepekan.
Akibat blokade de facto ini, perusahaan utilitas Eropa terpaksa bersaing ketat dengan pembeli dari Asia untuk mendapatkan kargo LNG alternatif dari cekungan Atlantik. Hal ini menciptakan dasar harga struktural yang lebih tinggi untuk harga spot LNG global.
Kerentanan Pasokan Eropa Meningkat
AdGejolak geopolitik ini terjadi pada saat yang krusial bagi Eropa, yakni menjelang akhir musim injeksi gas ke fasilitas penyimpanan dan mendekati puncak permintaan untuk pemanasan di musim dingin. Data dari Gas Infrastructure Europe menunjukkan bahwa tingkat keterisian fasilitas penyimpanan gas bawah tanah di Eropa saat ini sekitar 62%, tertinggal dari rata-rata musiman lima tahun.
Proses pengisian ulang fasilitas penyimpanan telah terhambat oleh beberapa faktor, termasuk permintaan listrik yang tinggi dari pembangkit gas akibat gelombang panas di Eropa Selatan, pemeliharaan rutin pada pipa gas Norwegia, dan penundaan pengiriman kargo LNG dari Qatar.
Implikasi bagi Inflasi dan Kebijakan ECB
Reli harga gas yang berkelanjutan, ditambah dengan harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas $90 per barel, meningkatkan kekhawatiran akan inflasi akibat dorongan biaya (cost-push inflation) di sektor industri dan ritel Eropa. Lonjakan biaya input energi ini mempersulit arah kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB), yang akan mengadakan pertemuan pada 10 September.
Data awal bulan Agustus menunjukkan inflasi umum (CPI) tahunan zona euro naik menjadi 3,3%, didorong oleh lonjakan komponen energi sebesar 14,3%, meskipun inflasi inti sedikit melambat menjadi 2,4%. Tekanan inflasi dari harga energi memaksa para pembuat kebijakan untuk mempertahankan sikap *hawkish*, sambil menyeimbangkan risiko inflasi dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi regional.