Story
Industri Kedelai China Hadapi Tekanan Margin Jelang Kunjungan Xi ke AS

Summary
Pabrik penggilingan kedelai swasta di China menghadapi tekanan biaya tinggi dan pasokan yang ketat pada kuartal keempat, seiring menipisnya persediaan dari Brasil dan berlakunya tarif impor atas kargo AS.
Para pelaku industri pengolahan kedelai swasta di China menghadapi potensi krisis pasokan pada kuartal keempat akibat menipisnya persediaan di eksportir utama Brasil, sementara tarif impor yang tinggi membuat kargo dari Amerika Serikat (AS) tidak terjangkau. Situasi ini memperburuk tekanan pada industri yang sudah berjuang dengan margin negatif dan melemahnya permintaan pakan ternak.
Tekanan Ganda pada Profitabilitas
Industri pengolahan biji minyak terbesar di dunia ini berada di bawah tekanan dari dua sisi. Pertama, margin keuntungan penggilingan (crush margin) telah berada di wilayah negatif. Menurut Rosa Wang, seorang analis di Shanghai JC Intelligence Co., margin teoretis untuk kedelai Brasil dan AS, bahkan tanpa memperhitungkan tarif tambahan 10%, sudah merugi antara 150 hingga 230 yuan ($22,35 hingga $34,27) per ton untuk pengiriman Oktober-Desember.
Kedua, permintaan pakan ternak dari dalam negeri melemah. Hal ini disebabkan oleh menyusutnya populasi babi di China seiring upaya pemerintah menstabilkan pasar yang kelebihan pasokan. Kondisi ini secara langsung mengurangi permintaan bungkil kedelai, produk utama dari proses penggilingan.
Harapan pada Kunjungan Diplomatik
Para pelaku pasar menaruh harapan besar pada kunjungan Presiden Xi Jinping ke Washington bulan ini, yang diharapkan dapat mendorong Beijing untuk melonggarkan tarif impor 10% atas produk pertanian AS. Sebelumnya, setelah pertemuan Xi dengan Presiden AS Donald Trump pada bulan Mei, perusahaan perdagangan milik negara China telah membeli sekitar 11 juta metrik ton kedelai AS, menurut para pedagang.
AdNamun, para pengolah swasta sebagian besar menghindari kargo dari Amerika Utara karena tarif tersebut. "Saat Amerika Selatan mendekati akhir musim pemasarannya, para pengolah swasta akan membutuhkan akses ke kedelai AS," kata Johnny Xiang, pendiri AgRadar Consulting. "Itu akan bergantung pada pengurangan tarif atau, jika tidak, pada lelang cadangan Sinograin agar pabrik mereka tetap beroperasi," tambahnya, merujuk pada badan cadangan pangan negara China.
Kondisi Pasar Global dan Pasokan Terbatas
Pasar global memperlihatkan tren harga yang meningkat. Kontrak berjangka kedelai acuan AS telah naik hampir 12% dari level terendahnya pada bulan Juni, didukung oleh cuaca buruk di AS dan pembelian oleh BUMN China. Saat ini, kedelai Brasil untuk pengiriman November ditawarkan dengan premium $3,15 hingga $3,20 per gantang di atas kontrak Chicago Board of Trade, sementara kargo Teluk AS yang sebanding ditawarkan pada $3,20 hingga $3,25 per gantang, belum termasuk tarif.
Kemampuan Brasil untuk meningkatkan penjualan ke China pada kuartal keempat terbatas karena permintaan yang kuat dari pembeli lain dan aktivitas penggilingan domestik yang tinggi. Menurut analis Safras & Mercado, petani Brasil kemungkinan telah menjual hampir 85% dari hasil panen 2025/26 mereka. Sementara itu, Argentina yang sebelumnya menjadi pemasok tambahan, diperkirakan tidak dapat menjadi penyangga yang signifikan pada tahun 2026 tanpa adanya insentif kebijakan serupa.