Story
Yardeni Research: Pasar Saham Akan Bergejolak di Musim Panas Sebelum Kembali Reli

Yardeni Research memperkirakan pasar saham akan mengalami periode yang lebih bergejolak selama musim panas sebelum melanjutkan tren kenaikannya di akhir tahun. Lembaga riset tersebut menyatakan bahwa pergerakan pasar yang cenderung datar baru-baru ini lebih terlihat seperti stagnasi musim panas, dengan indeks S&P 500 bergerak di sekitar level 7.500 sejak 14 Mei.
Proyeksi Pasar dan Faktor Risiko
Meskipun Yardeni Research tetap optimistis dengan target indeks S&P 500 di level 8.250 pada akhir tahun, mereka memperingatkan bahwa "kemungkinan besar akan terjadi lebih banyak gejolak di musim panas ini sebelum reli berlanjut." Menurut lembaga tersebut, faktor pendorong seperti ekonomi yang tangguh dan pendapatan emiten yang kuat sebagian besar sudah diperhitungkan oleh pasar, sementara beberapa risiko kini kembali menjadi sorotan.
Sejumlah risiko utama yang kembali muncul antara lain:
- Konflik Timur Tengah: Eskalasi perang setelah gencatan senjata singkat telah mendorong harga minyak lebih tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi. Ancaman Houthi terhadap pelayaran di Selat Bab el-Mandeb menambah tekanan lebih lanjut.
- Kekhawatiran Sektor AI: Muncul kembali keraguan mengenai apakah belanja modal besar-besaran oleh para *hyperscaler* di bidang AI akan memberikan imbal hasil yang memadai. Insiden keamanan yang diungkapkan oleh OpenAI juga menambah sentimen negatif.
- Kebijakan Tarif: Pemerintah AS berencana memberlakukan tarif 50% untuk berbagai barang dari Kanada dan bea masuk baru sekitar 10,0%-12,5% terhadap sekitar 60 negara lain.
AdSinyal dari Pasar Obligasi dan Valas
Kekhawatiran ini tercermin di pasar obligasi, di mana imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (*10-year Treasury yield*) kembali naik ke 4,63%. Kenaikan imbal hasil tenor 2 tahun hingga melampaui suku bunga acuan The Fed mengindikasikan bahwa investor mengantisipasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Yardeni menempatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 35% untuk bulan Juli dan 55% untuk bulan September. Di tengah penguatan dolar, harga emas berhasil bertahan di atas level support $4.000 per ons. Sementara itu, yen Jepang anjlok ke bawah 163 per dolar, level terlemahnya sejak 1986, tertekan oleh biaya energi yang lebih tinggi dan perbedaan suku bunga yang lebar dengan AS.