Story
Imbal Hasil Obligasi AS Kembali Naik, Pangkas Reli di Pasar Asia dan Eropa

Tekanan jual kembali melanda pasar obligasi jangka panjang Amerika Serikat pada hari Kamis, mendorong imbal hasil (yield) kembali mendekati level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Perkembangan ini secara efektif menghapus kenaikan yang sempat terjadi di pasar obligasi acuan Asia dan Eropa pada awal sesi perdagangan.
Tekanan Jual di Pasar AS Kembali Muncul
Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun yang menjadi acuan naik ke level 4,688%, memulihkan sebagian penurunannya dari sesi sebelumnya. Tekanan jual paling terasa di segmen jangka panjang, dengan imbal hasil Treasury 30 tahun menanjak ke 5,23%, mendekati level tertinggi 19 tahun di 5,337% yang dicapai pada hari Selasa.
Kenaikan imbal hasil ini mengindikasikan bahwa langkah Departemen Keuangan AS untuk menggandakan skala pembelian kembali obligasi jangka panjang menjadi $4 miliar per hari belum cukup untuk mengubah sentimen pasar. Faktor pendorong utama tetap sama: risiko inflasi yang persisten dan tekanan dari pasokan obligasi pemerintah yang terus-menerus. Kekhawatiran fiskal semakin dalam setelah data resmi mengonfirmasi utang pemerintah federal AS untuk pertama kalinya melampaui $40 triliun.
Reli di Pasar Global Tak Bertahan Lama
Pasar obligasi pemerintah di Asia sempat mengalami reli di awal hari, dipimpin oleh obligasi pemerintah Jepang (JGB). Imbal hasil JGB 10 tahun turun tajam dari 2,896% menjadi 2,842%, merespons berita pembelian kembali oleh Departemen Keuangan AS. Namun, reli ini diperkirakan tidak akan bertahan lama karena ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan paling cepat pada bulan September.
AdDi Eropa, gambaran pasar terpecah. Imbal hasil obligasi Jerman (Bund) 10 tahun turun menjadi 3,251%, setelah sebelumnya naik selama empat hari berturut-turut. Sebaliknya, imbal hasil Schatz 2 tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter justru naik untuk hari kelima berturut-turut. Fenomena yang dikenal sebagai *bear market flattening* ini mencerminkan ekspektasi pasar akan sikap *hawkish* dari Bank Sentral Eropa (ECB) untuk menekan inflasi zona euro yang masih berada di sekitar 3%.
Fokus Investor Beralih ke Jackson Hole
Selain dinamika utang dan inflasi, pasar juga mencermati risiko geopolitik, di mana harga minyak mentah Brent bertahan di atas $91 per barel di tengah gangguan pengiriman di Selat Hormuz. Dengan kembalinya tren kenaikan imbal hasil AS, perhatian para pelaku pasar global kini tertuju pada pidato Ketua The Fed dalam simposium Jackson Hole yang akan datang.
Investor akan mencari petunjuk penting dari bank sentral mengenai bagaimana mereka akan menyeimbangkan kebijakan moneter dalam menghadapi inflasi yang didorong oleh biaya (cost-push inflation) dan volatilitas di pasar utang negara.