Story
Margin Kilang AS Cetak Rekor Tertinggi di Tengah Kekhawatiran Kelangkaan Bahan Bakar

Summary
Margin keuntungan kilang minyak AS mencapai rekor baru, didorong oleh stok domestik yang sangat rendah dan permintaan ekspor yang kuat di tengah ketegangan geopolitik. Situasi ini mengancam pasokan bahan bakar dan menaikkan harga bagi konsumen.
Margin keuntungan kilang minyak Amerika Serikat (AS) mencatat rekor tertinggi baru untuk sesi ketiga berturut-turut pada hari Kamis, seiring menipisnya stok dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengancam potensi kekurangan pasokan di negara konsumen bahan bakar terbesar di dunia tersebut.
Pendorong Kenaikan Margin
Indikator utama profitabilitas kilang AS, yang dikenal sebagai *3-2-1 crack spread*, naik lebih dari 2% dan ditutup pada rekor $69,66 per barel, menurut laporan Reuters. *Spread* ini, yang diperdagangkan di New York Mercantile Exchange, digunakan oleh para pengilang sebagai instrumen lindung nilai untuk mengunci margin keuntungan mereka.
Kilang-kilang AS telah menjadi penerima manfaat utama dari konflik Iran karena pembeli internasional beralih ke pasokan mereka, yang mendorong ekspor bahan bakar negara itu ke rekor tertinggi. Namun, hal ini secara bersamaan menguras cadangan bahan bakar domestik dan menaikkan harga secara tajam, membebani anggaran konsumen selama puncak musim mengemudi musim panas.
Krisis Pasokan Diesel dan Bensin
Diesel, yang merupakan porsi terbesar dari konsumsi minyak global, telah menjadi pendorong utama ekonomi kilang AS. Stok bahan bakar industri ini sudah ketat selama bertahun-tahun karena penutupan kilang di negara-negara Barat, dan pasar menjadi semakin ketat akibat gangguan ekspor dari Timur Tengah dan larangan ekspor sementara dari Rusia.
AdData dari U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa meskipun stok diesel AS naik 4,5 juta barel pekan lalu menjadi lebih dari 102 juta barel, angka tersebut masih sekitar 8 juta barel di bawah rata-rata musiman lima tahun.
Sementara itu, pasokan bensin menjadi kekhawatiran yang semakin besar. Stok bensin AS turun lebih dari 1,5 juta barel menjadi 210,5 juta barel, atau sekitar 14 juta barel di bawah rata-rata musiman lima tahun. Menurut data EIA, ini adalah tingkat stok terendah untuk periode ini sejak tahun 2012.
Dampak Pasar dan Prospek ke Depan
Ketidakseimbangan pasokan ini berdampak langsung pada konsumen. Data dari GasBuddy menunjukkan harga bensin ritel rata-rata nasional AS berada di angka $3,95 per galon pada hari Kamis, naik hampir 80 sen dari waktu yang sama tahun lalu. Kenaikan harga bensin merupakan indikator inflasi yang sangat sensitif bagi konsumen AS.
Analis memperkirakan tekanan harga bisa berlanjut. "Mendorong kilang untuk kembali ke mode produksi bensin maksimal akan membutuhkan harga bensin yang lebih tinggi di tingkat ritel dan grosir serta margin yang lebih tinggi dibandingkan bahan bakar lain," tulis analis minyak independen John Kemp dalam sebuah catatan. Sebagai gambaran, *crack spread* diesel menetap di atas rekor $91 per barel pada hari Kamis, sementara *spread* bensin berada di sekitar $59 per barel.