Story

Volume Bursa AS Diprediksi Naik, Namun Risiko Regulasi Jadi Sorotan Utama

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 21, 20262 min read
Volume Bursa AS Diprediksi Naik, Namun Risiko Regulasi Jadi Sorotan Utama

Summary

Operator bursa AS diperkirakan akan melaporkan peningkatan volume perdagangan berkat volatilitas pasar, tetapi investor lebih fokus pada potensi ancaman dari produk baru dan perubahan sikap regulator.

Text size
Background

Para operator bursa di Amerika Serikat (AS) bersiap melaporkan kinerja keuangan kuartalan yang didukung oleh lonjakan volume perdagangan, namun fokus investor diperkirakan akan tertuju pada ketidakpastian seputar lingkungan regulasi dan potensi persaingan dari produk-produk baru.

Peningkatan Volume di Tengah Volatilitas

Kenaikan volume perdagangan didorong oleh sejumlah faktor, termasuk volatilitas yang dipicu oleh perang AS-Iran, prospek suku bunga yang tidak menentu, dan pergeseran sentimen di sektor kecerdasan buatan (AI). Menurut laporan Reuters, kondisi ini mendorong investor untuk melakukan reposisi portofolio secara aktif.

Selain itu, kebangkitan kembali aktivitas penawaran umum perdana (IPO) juga diperkirakan akan memberikan dorongan positif bagi kinerja Nasdaq dan Intercontinental Exchange (ICE), perusahaan induk dari New York Stock Exchange (NYSE). Aktivitas IPO yang lebih tinggi secara langsung meningkatkan pendapatan pencatatan bagi bursa.

Fokus Beralih ke Risiko Regulasi

Di tengah prospek volume yang kuat, kekhawatiran investor justru membebani saham-saham sektor ini. Perhatian utama tertuju pada keputusan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) yang mengizinkan Kalshi dan Coinbase untuk menawarkan kontrak berjangka perpetual (*perpetual futures*) untuk mata uang kripto.

Kontrak berjangka perpetual adalah instrumen derivatif tanpa tanggal kedaluwarsa yang harganya terikat pada aset acuan. Produk ini dianggap sebagai ancaman kompetitif bagi pangsa pasar bursa-bursa yang sudah mapan.

Sample IUX Markets – In-articleAd
  • Kekhawatiran ini telah menekan kinerja saham sebagian besar operator bursa sejak awal tahun.
  • Saham Nasdaq (NDAQ), CME Group (CME), dan ICE telah turun antara 5,4% hingga 12,6% *year-to-date*.
  • Sebaliknya, saham Cboe Global Markets (CBOE) berhasil naik sekitar 11%.

"Mayoritas tekanan pada valuasi saham sejak awal tahun berasal dari kombinasi pergeseran sikap regulator dan ancaman yang dirasakan dari kontrak berjangka perpetual," kata Patrick Moley, analis di Piper Sandler, kepada Reuters. Para analis memperkirakan bahwa para eksekutif bursa akan menghadapi banyak pertanyaan mengenai perubahan sikap regulator dan risiko kompetitif dalam paparan kinerja mereka.

Prospek Laba yang Bervariasi

Analis memproyeksikan hasil kinerja kuartalan yang bervariasi di antara para operator bursa, sebagian karena perbandingan yang sulit dengan periode tahun sebelumnya yang juga diwarnai volatilitas tinggi. Namun, lini bisnis non-transaksional seperti penyediaan data pasar diperkirakan akan tetap solid.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh LSEG:

  • CME Group, yang akan melaporkan kinerjanya pada hari Rabu, diperkirakan akan mencatat sedikit penurunan pendapatan dan laba dibandingkan tahun sebelumnya.
  • Nasdaq, sebaliknya, diproyeksikan melaporkan rekor pendapatan dan laba kuartalan pada hari Kamis, didukung oleh IPO besar seperti SpaceX dan permintaan yang kuat untuk layanan datanya.
  • Cboe dan ICE, yang akan melaporkan minggu depan, diperkirakan akan membukukan pendapatan dan laba yang lebih tinggi berkat volume perdagangan yang kuat.
Back to latest news

LATEST