Story

Saham Pelayaran Melonjak Akibat Krisis Hormuz 2026, Namun Risiko di Depan Mata

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Sep 18, 20262 min read
Saham Pelayaran Melonjak Akibat Krisis Hormuz 2026, Namun Risiko di Depan Mata
Text size
Background

Krisis geopolitik di Selat Hormuz telah secara signifikan menekan kapasitas pelayaran global efektif pada tahun 2026, yang memicu lonjakan tarif angkutan barang dan memberikan keuntungan tak terduga (*windfall*) bagi sejumlah perusahaan pelayaran berkapitalisasi besar. Situasi ini, ditambah dengan pengalihan rute yang masih berlangsung dari Laut Merah, menciptakan kondisi pasar yang sangat menguntungkan bagi operator.

Apa yang Terjadi

Data dari Investing.com menunjukkan bahwa transit kapal di Selat Hormuz anjlok lebih dari 80%, dari 3.098 kapal pada Februari 2026 menjadi hanya 554 pada Juli 2026, seiring meletusnya konflik AS-Iran. Penurunan drastis ini memperketat pasokan kapasitas pelayaran di seluruh dunia, yang menyebabkan World Container Index berada 112% di atas level tahun sebelumnya. Kenaikan tarif ini secara langsung berdampak pada pendapatan dan profitabilitas perusahaan-perusahaan di sektor ini.

Kinerja Saham Unggulan

Sejumlah perusahaan pelayaran besar menjadi penerima manfaat utama dari krisis ini, dengan saham mereka mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang tahun berjalan (YTD). Berikut adalah beberapa yang berkinerja terbaik:

  • China Merchants Energy Shipping (601872): +147,2% YTD
  • SITC International (1308.HK): +87,9% YTD
  • International Container Terminal (ICT): +69,2% YTD
  • Kawasaki Kisen Kaisha (9107): +66,5% YTD
  • A.P. Møller-Mærsk B (MAERSKb): +59,8% YTD
Sample IUX Markets – In-articleAd

Kenaikan harga saham ini didukung oleh perbaikan fundamental. Sebagai contoh, Maersk menaikkan tarif angkutan rata-ratanya sebesar 32% secara kuartalan pada Kuartal II 2026. Sementara itu, SITC International berhasil mencatatkan ekspansi margin kotor yang luar biasa, dari 25,7% pada tahun fiskal 2023 menjadi 38,4% pada tahun fiskal 2025.

Sinyal Peringatan dan Tantangan ke Depan

Di balik reli yang kuat, beberapa sinyal peringatan mulai muncul. Permintaan mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan, di mana volume peti kemas AS pada Agustus diperkirakan turun 4,2% YoY, mengindikasikan bahwa aktivitas penimbunan stok di awal tahun mulai memudar. Selain itu, beberapa rute utama seperti Asia–Eropa Utara mengalami penurunan tarif sebesar 7% pada minggu ke-37 tahun 2026.

Risiko valuasi juga menjadi perhatian. Model keuangan mengindikasikan beberapa saham, seperti Mitsui O.S.K. (-32,3%) dan SITC (-18,4%), mungkin sudah dinilai terlalu tinggi. Investor juga perlu mewaspadai tantangan pada tahun 2027, termasuk gelombang pengiriman kapal-kapal baru dan potensi pembukaan kembali rute Laut Merah, yang dapat menambah kapasitas secara signifikan dan menekan tarif angkutan.

Back to latest news

LATEST