Story

Pratt & Whitney: Gangguan Mesin Mereda, Jumlah Pesawat Dilarang Terbang Turun 40%

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 21, 20261 min read
Pratt & Whitney: Gangguan Mesin Mereda, Jumlah Pesawat Dilarang Terbang Turun 40%

Summary

Produsen mesin jet Pratt & Whitney melaporkan penurunan 40% jumlah pesawat yang dilarang terbang akibat masalah mesin, menandakan meredanya krisis perawatan yang telah melanda industri penerbangan.

Text size
Background

Produsen mesin jet Pratt & Whitney, sebuah unit dari RTX, mengumumkan bahwa jumlah pesawat yang dilarang terbang (grounded) akibat masalah mesin telah turun 40% dari puncaknya. Perkembangan ini mengindikasikan kemajuan signifikan dalam mengatasi krisis perawatan dan kontaminasi logam yang telah mengganggu operasional maskapai penerbangan di seluruh dunia.

Detail Pemulihan Operasional

Dalam sebuah konferensi pers di Farnborough, Inggris, Presiden Mesin Komersial Rick Deurloo menyatakan bahwa masalah mesin pada model pesawat yang lebih kecil, seperti Airbus A220 dan Embraer E2, kini "hampir hilang". Ia menambahkan bahwa jumlah pesawat tipe ini yang dilarang terbang diperkirakan akan turun menjadi nol dalam beberapa bulan mendatang.

Meskipun Deurloo tidak merinci jumlah pasti jet Airbus A320neo yang masih dilarang terbang, ia mencatat adanya "perbaikan yang stabil" pada armada tersebut. Menurut laporan industri, jumlah total pesawat yang terdampak sempat mencapai puncaknya di sekitar 500 unit.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Konteks dan Dampak bagi Industri

Pratt & Whitney telah berjuang mengatasi dua isu utama: penundaan perawatan dan masalah kontaminasi serbuk logam pada mesinnya. Masalah ini berkontribusi pada krisis kekurangan mesin di tingkat industri, memaksa ratusan pesawat untuk tidak beroperasi dan membebani kapasitas maskapai penerbangan secara global.

Kabar pemulihan ini merupakan sinyal positif bagi maskapai yang mengoperasikan armada Airbus dan Embraer dengan mesin Pratt & Whitney. Kembalinya pesawat ke layanan secara bertahap dapat membantu meningkatkan kapasitas, menstabilkan jadwal penerbangan, dan berpotensi meringankan tekanan biaya operasional bagi maskapai. Bagi investor RTX, kemajuan ini menunjukkan upaya perusahaan dalam mengatasi tantangan manufaktur dan servis yang material.

Back to latest news

LATEST