Story

FDA: Produsen Unggas AS Tarik Hampir 1,6 Juta Lusin Telur Akibat Potensi Salmonella

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 23, 20261 min read
FDA: Produsen Unggas AS Tarik Hampir 1,6 Juta Lusin Telur Akibat Potensi Salmonella
Text size
Background

Midwest Poultry Services, sebuah perusahaan unggas di Amerika Serikat, melakukan penarikan kembali (recall) secara sukarela terhadap hampir 1,6 juta lusin telur karena potensi kontaminasi bakteri *Salmonella Enteritidis*. Pengumuman ini disampaikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (U.S. Food and Drug Administration/FDA) pada hari Rabu.

Rincian Penarikan Produk

Penarikan ini mencakup telur cangkang putih dan telur cangkang cokelat bebas sangkar (*cage-free*) yang diproduksi di fasilitas perusahaan di Texas. Menurut FDA, produk-produk yang terdampak didistribusikan melalui beberapa peritel besar.

Telur-telur tersebut dijual di:

  • Toko-toko Kroger di negara bagian Texas dan Louisiana.
  • Toko-toko Brookshire Grocery di beberapa negara bagian, termasuk Oklahoma, Arkansas, dan Mississippi.
Sample IUX Markets – In-articleAd

Sebagai respons, Midwest Poultry Services telah menghentikan semua distribusi telur yang berasal dari peternakannya di Texas, tambah regulator kesehatan tersebut.

Dampak Kesehatan dan Respons Perusahaan

FDA menyatakan bahwa hingga saat pengumuman dirilis, belum ada laporan penyakit yang terkait langsung dengan konsumsi telur dari Midwest Poultry Services. *Salmonella Enteritidis* adalah bakteri yang dapat menyebabkan penyakit bawaan makanan dengan gejala seperti kram, diare, mual, dan demam, yang biasanya muncul dalam 12 hingga 72 jam setelah konsumsi produk yang terkontaminasi.

Penarikan produk dalam skala besar seperti ini dapat berdampak pada kepercayaan konsumen dan berpotensi menimbulkan pengawasan regulator yang lebih ketat terhadap protokol keamanan pangan perusahaan. Pihak Reuters melaporkan bahwa Midwest Poultry Services dan Kroger tidak segera memberikan komentar saat dihubungi di luar jam kerja normal, sementara Brookshire Grocery tidak dapat dihubungi.

Back to latest news

LATEST