Story
Dimon dari JPMorgan Mengkritik Aturan Modal Bank, Sebut Perhitungan 'Palsu'

Summary
CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon mengkritik keras proposal aturan modal baru dari regulator AS, dengan alasan metode perhitungannya 'palsu' dan secara tidak proporsional merugikan bank-bank universal besar.
CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, meningkatkan kritiknya terhadap proposal aturan modal perbankan AS yang baru, dengan menyatakan bahwa regulator seharusnya tidak menetapkan persyaratan modal dengan cara yang "palsu" untuk menaikkan angka secara artifisial. Komentar tajam ini disampaikan selama telekonferensi laporan keuangan kuartalan perusahaan pada hari Selasa.
Kritik Terhadap Perhitungan Regulator
Dimon berpendapat bahwa proposal tersebut, yang mengubah cara bank menghitung dana yang harus disisihkan untuk menyerap potensi kerugian, secara tidak adil merugikan bank-bank besar dan terdiversifikasi seperti JPMorgan. Sebaliknya, ia mengklaim aturan ini justru memberikan keuntungan bagi para raksasa perdagangan di Wall Street.
"Mereka seharusnya tidak melakukan penghitungan dengan cara yang palsu untuk membuat angkanya lebih tinggi," kata Dimon, menurut laporan Reuters. "Angka seharusnya adalah angka. Jika mereka pikir kita harus memiliki lebih banyak modal, mereka harus memintanya... Saya tidak senang angka-angka ini dibuat secara palsu."
Kritik ini muncul meskipun JPMorgan melaporkan laba kuartal kedua yang memecahkan rekor, didorong oleh biaya perbankan investasi yang kuat dan kinerja divisi perdagangannya.
Dampak yang Tidak Merata
JPMorgan secara spesifik menyoroti bagaimana aturan tersebut akan memengaruhinya secara berbeda dibandingkan para pesaing. Bank tersebut sebelumnya menyatakan akan menghadapi kenaikan modal sekitar 4% di bawah draf baru, sementara para pesaingnya akan menghadapi pengurangan modal rata-rata 4,8%.
AdInti dari kritik Dimon adalah perhitungan untuk *GSIB surcharge*—lapisan modal tambahan yang dikenakan pada bank-bank terbesar dan paling penting secara sistemik. Ia berpendapat bahwa perhitungannya harus sepenuhnya memperhitungkan pertumbuhan ekonomi sejak pertama kali diterapkan pada tahun 2015, yang akan mengurangi beban modal bank.
Chief Financial Officer JPMorgan, Jeremy Barnum, menambahkan bahwa proposal tersebut dapat "merusak kemampuan bank untuk melayani ekonomi riil (*Main Street*)". Ia menunjuk pada perubahan yang diusulkan terkait pendanaan grosir jangka pendek, yang kemungkinan akan menguntungkan bank seperti Goldman Sachs dan Morgan Stanley yang lebih bergantung pada sumber pendanaan tersebut.
Konteks Regulasi
Regulator federal AS, yang dipimpin oleh The Federal Reserve, sedang dalam proses finalisasi beberapa proposal modal, termasuk aturan Basel mengenai bobot risiko dan GSIB surcharge. Aturan ini dirancang untuk memastikan stabilitas sistem keuangan dengan mewajibkan bank memiliki penyangga modal yang cukup untuk menahan guncangan ekonomi.
Proposal saat ini, yang diumumkan pada bulan Maret, secara luas dianggap lebih ramah industri dibandingkan draf tahun 2023. Meskipun demikian, lobi dari industri perbankan tetap kuat. Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, menyatakan harapannya untuk menyelesaikan penyusunan aturan ini pada akhir tahun.