Story

Goldman Sachs: Pasar Saham Cenderung Stagnan Jelang Pemilu Sela AS, Reli Menyusul Kemudian

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 26, 20262 min read
Goldman Sachs: Pasar Saham Cenderung Stagnan Jelang Pemilu Sela AS, Reli Menyusul Kemudian

Summary

Menurut Goldman Sachs, pasar saham AS secara historis cenderung stagnan dengan volatilitas yang meningkat menjelang pemilu sela, namun biasanya menguat setelah ketidakpastian politik mereda.

Text size
Background

Pasar saham AS secara historis menunjukkan kinerja datar disertai peningkatan volatilitas dalam beberapa bulan menjelang pemilihan sela (midterm elections), namun cenderung menguat setelah pemungutan suara selesai, menurut analisis dari Goldman Sachs.

Pola Historis Pasar

Goldman Sachs menyoroti bahwa investor kini mulai mengalihkan perhatiannya ke pemilu sela AS yang akan berlangsung pada bulan November. Analisis historis sejak tahun 1974 menunjukkan bahwa Indeks S&P 500 mencatatkan median imbal hasil 0% antara awal Agustus hingga hari pemilihan.

Namun, setelah ketidakpastian politik mereda pasca-pemilu, pasar biasanya menunjukkan kinerja yang lebih kuat. Indeks S&P 500 tercatat memberikan median keuntungan sebesar 6% dalam tiga bulan setelah pemungutan suara. Menurut Goldman, investor reksa dana dan investor asing cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap ekuitas AS sebelum pemilu dan membangun kembali posisi setelahnya.

Peningkatan Volatilitas dan Risiko Imbal Hasil Obligasi

Laporan tersebut menyatakan bahwa ketidakpastian kebijakan ekonomi dan volatilitas pasar saham biasanya meningkat pada akhir musim panas menjelang pemilu sela. Goldman Sachs berpendapat bahwa kondisi saat ini, dengan korelasi saham yang rendah, membuat kepemilikan volatilitas indeks ekuitas menjadi semakin menarik seiring pergeseran fokus investor dari laporan keuangan ke isu makroekonomi seperti pemilu, geopolitik, dan pergerakan suku bunga.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Selain itu, bank investasi tersebut memperingatkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) dapat menambah tekanan pada pasar saham. Secara historis, saham cenderung kesulitan ketika imbal hasil Treasury 10-tahun naik lebih dari dua standar deviasi dalam sebulan, yang setara dengan kenaikan sekitar 50 basis poin dalam kondisi pasar saat ini.

Dampak Hasil Pemilu Diperkirakan Terbatas

Meskipun perhatian pasar meningkat, Goldman Sachs meyakini hasil pemilu sela tidak akan memicu kejutan legislatif yang besar. Pasar prediksi mengindikasikan probabilitas sekitar 85% bahwa Partai Demokrat akan kembali menguasai Dewan Perwakilan Rakyat (House), sementara perebutan Senat masih sangat ketat.

Kondisi ini membatasi ruang untuk perubahan kebijakan yang tak terduga. Sebaliknya, investor diperkirakan akan lebih fokus pada sinyal dari hasil pemilu untuk pemilihan presiden 2028 dan arah kebijakan di masa depan. Isu utama bagi pemilih saat ini adalah inflasi, sementara investor juga mengamati potensi regulasi kecerdasan buatan (AI) yang tampaknya mendapat dukungan bipartisan.

Back to latest news

LATEST