Story

Aksi Jual Obligasi Global Menguat, Imbal Hasil Treasury AS 2 Tahun Sentuh Level Tertinggi Sejak 2025

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Sep 3, 20262 min read
Aksi Jual Obligasi Global Menguat, Imbal Hasil Treasury AS 2 Tahun Sentuh Level Tertinggi Sejak 2025
Text size
Background

Aksi jual di pasar obligasi global terus berlanjut pada hari Selasa, mendorong biaya pinjaman pemerintah di Amerika Utara, Eropa, dan Asia ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Kombinasi dari eskalasi konflik militer di Timur Tengah dan sikap kebijakan moneter yang hawkish dari bank sentral utama telah memicu penarikan modal bersejarah dari aset pendapatan tetap.

Lonjakan Imbal Hasil di Pasar Utama

Di Amerika Serikat, para pelaku pasar secara signifikan merevisi ekspektasi suku bunga The Fed dan risiko inflasi. Hal ini menyebabkan lonjakan imbal hasil (yield) di sepanjang kurva obligasi pemerintah AS (Treasury):

  • Imbal hasil Treasury 2 tahun, yang sensitif terhadap kebijakan moneter, berada di level 4,354%, menyentuh level tertinggi sejak 2025.
  • Imbal hasil Treasury 10 tahun naik menjadi 4,780%, yang juga merupakan rekor tertinggi sejak 2025.
  • Imbal hasil Treasury 30 tahun menanjak ke 5,273%, level tertinggi dalam lebih dari seminggu.

Kenaikan tajam imbal hasil di AS mencerminkan gejolak yang lebih luas di pasar obligasi internasional. Di Eropa, imbal hasil obligasi 2 tahun Jerman naik ke 2,936%, sementara imbal hasil 10 tahun dan 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2011. Di Asia, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) 10 tahun secara simbolis menembus level 3,000% untuk pertama kalinya sejak akhir 1996.

Pendorong Aksi Jual: Geopolitik dan Kebijakan Bank Sentral

Gelombang aksi jual ini didorong oleh perubahan fundamental dalam persepsi risiko investor. Konflik militer langsung antara AS dan Iran di Teluk Persia telah mendorong harga minyak mentah di atas $90 per barel. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi hingga 2027, membuat investor menuntut premi yang lebih tinggi untuk memegang obligasi jangka panjang.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Pernyataan dari Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, yang mengindikasikan bahwa bank sentral "masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan" untuk menekan inflasi, semakin mempercepat aksi jual. Pasar uang kini memperkirakan probabilitas 60% untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada bulan September. Di sisi lain, Bank Sentral Eropa (ECB) juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga, sementara Bank of Japan (BoJ) menghadapi tekanan untuk memperketat kebijakannya.

Dinamika Penawaran dan Permintaan

Faktor lain yang menekan pasar adalah melimpahnya pasokan surat utang. Pemerintah di seluruh dunia menerbitkan utang dalam jumlah rekor untuk mendanai peningkatan anggaran pertahanan, proyek transisi energi, dan menutupi defisit fiskal.

Pada saat yang sama, bank-bank sentral utama secara aktif mengurangi neraca mereka melalui pengetatan kuantitatif (*quantitative tightening*). Dengan berkurangnya pembelian dari bank sentral, pasar swasta harus menyerap pasokan obligasi yang membanjir ini, yang pada gilirannya memaksa imbal hasil untuk naik lebih tinggi.

Fokus Investor ke Depan

Para pelaku pasar kini memantau dengan cermat data ekonomi yang akan datang untuk mencari petunjuk mengenai langkah kebijakan bank sentral selanjutnya. Data inflasi Zona Euro untuk bulan Agustus dan laporan lowongan pekerjaan JOLTS AS akan dirilis hari ini. Selain itu, data Non-Farm Payrolls (NFP) AS yang akan dirilis pada hari Jumat akan menjadi acuan terakhir bagi The Fed sebelum keputusan suku bunga pada 16 September.

Back to latest news

LATEST