Story
Bernstein Naikkan Proyeksi Harga Nikel 2026 di Tengah Pengetatan Pasokan Indonesia

Bernstein telah menaikkan target harga nikel untuk tahun 2026 menjadi $17.357 per metrik ton, naik dari rata-rata $15.164 per ton pada tahun 2025. Proyeksi yang lebih tinggi ini didasarkan pada pandangan bahwa pasar nikel akan lebih seimbang dari perkiraan sebelumnya.
Pergeseran Keseimbangan Pasar
Menurut analisis Bernstein, pasar nikel saat ini hanya menunjukkan surplus kecil, sebuah perubahan signifikan dari estimasi konsensus di awal tahun yang memproyeksikan surplus lebih dari 200.000 metrik ton. Pergeseran ini terutama didorong oleh dinamika di Indonesia, yang telah memperketat ketersediaan bijih dan meningkatkan ketidakpastian dalam kerangka komersial.
Faktor-faktor ini telah mengangkat basis biaya produksi secara signifikan. Biaya tunai C1 (C1 cash costs) pada persentil ke-75 dan ke-90 telah meningkat masing-masing menjadi $17.870 per ton dan $18.650 per ton. Angka ini jauh di atas level tahun 2025 yang berada di $14.650 per ton dan $15.300 per ton.
Dinamika Pasokan dan Permintaan
Dari sisi pasokan, Bernstein mencatat bahwa laporan mengenai potensi kenaikan kuota RKAB oleh pemerintah Indonesia pada revisi Juli berkontribusi pada penurunan harga nikel pada bulan Juni. Selain itu, konflik geopolitik telah menciptakan kelangkaan asam sulfat, input kunci untuk proses HPAL, yang mendorong pemotongan produksi di fasilitas HPAL Indonesia karena lonjakan harga sulfur granular.
AdDi sisi permintaan, pertumbuhan penjualan kendaraan listrik (EV) global melambat, hanya naik 0,5% secara tahunan hingga April. Baterai LFP, yang tidak menggunakan nikel, tetap menjadi teknologi dominan. Namun, permintaan nikel masih ditopang oleh sektor baja tahan karat (stainless steel), yang menyumbang sebagian besar penggunaan nikel dan diperkirakan akan tumbuh sekitar 5% dari tahun ke tahun.
Kondisi Stok dan Prospek ke Depan
Gabungan stok nikel di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) telah meningkat menjadi sekitar 375.000 metrik ton. Angka ini setara dengan sekitar 9% dari produksi tambang yang diproyeksikan untuk tahun 2025.
Bernstein menyatakan bahwa jika kondisi pasokan kembali normal, terutama jika tercapai kesepakatan damai yang meningkatkan ketersediaan asam sulfat, tekanan pada biaya produksi dapat sedikit mereda. Namun, untuk saat ini, faktor-faktor dari sisi pasokan, terutama dari Indonesia, menjadi penentu utama prospek harga nikel.