Story
Pendiri AirAsia Sebut Likuiditas Kuat di Tengah Rencana Refinancing Utang $1 Miliar

Summary
Tony Fernandes menegaskan posisi likuiditas AirAsia yang kuat untuk mengatasi kenaikan biaya bahan bakar, di tengah rencana untuk mengumpulkan lebih dari $1 miliar untuk pembiayaan kembali utang menyusul anjloknya harga saham.
Pendiri AirAsia, Tony Fernandes, menyatakan bahwa maskapai berbiaya rendah tersebut memiliki likuiditas yang kuat untuk mengelola kenaikan biaya bahan bakar jet. Pernyataan ini menjawab kekhawatiran investor mengenai posisi keuangan maskapai setelah sahamnya anjlok ke level terendah dalam hampir empat tahun.
Menjawab Kekhawatiran Pasar
Dalam sebuah konferensi pers di Bangkok, Fernandes mengatakan AirAsia berencana mengumpulkan dana lebih dari $1 miliar pada Desember atau Januari, yang sebagian besar ditujukan untuk pembiayaan kembali utang (refinancing). Penegasan ini muncul setelah sebuah laporan pada hari Rabu menyebutkan pemerintah Malaysia melakukan perencanaan skenario dengan bertanya kepada Malaysia Airlines dan Batik Air apakah mereka dapat menyerap pangsa pasar domestik AirAsia, yang memicu aksi jual saham.
Saham AirAsia (AIRG.KL) telah anjlok sekitar 24% sejak laporan tersebut muncul, mencapai level terendah sejak Desember 2022. "COVID jauh, jauh lebih buruk dari apa yang kita hadapi sekarang," kata Fernandes. "Dulu kita tidak bisa terbang, tapi sekarang kita bisa terbang dan permintaan kami sangat kuat."
Posisi Keuangan dan Rencana Pendanaan
Menurut laporan keuangan per 30 Juni, AirAsia memiliki kewajiban lancar sebesar 18,4 miliar ringgit ($4,52 miliar), sementara posisi kas dan saldo bank berada di angka 954 juta ringgit. Fernandes mengakui kuartal kedua adalah periode terberat, dengan biaya bahan bakar melonjak 66% dari kuartal sebelumnya menjadi rata-rata $183 per barel, di mana maskapai tidak memiliki kebijakan lindung nilai (hedging).
AdUntuk mengatasi hal ini, Fernandes menjelaskan bahwa rencana pendanaan tersebut bukan untuk menambah modal baru, melainkan untuk menurunkan biaya. Rencana tersebut mencakup:
- Negosiasi lanjutan dengan lembaga keuangan untuk mendapatkan hingga $1 miliar dari pasar utang internasional.
- Fasilitas kredit lokal senilai 700 juta ringgit.
- Pembicaraan dengan sebuah bank global besar untuk transaksi obligasi.
- Tawaran pendanaan $1 miliar dari investor Timur Tengah yang masih dalam tahap uji tuntas, namun maskapai menunggu persyaratan yang lebih baik.
Strategi Operasional dan Hubungan dengan Pemerintah
Fernandes dengan tegas menepis perlunya bantuan dari pemerintah. "Kami tidak butuh penyelamatan, bailout, atau apa pun," ujarnya, seraya menambahkan bahwa belum ada diskusi dengan pemerintah mengenai hal tersebut. Pernyataan ini merespons kabar bahwa kementerian keuangan Malaysia telah menunjuk Alton Aviation Consultancy untuk menilai kebutuhan pendanaan AirAsia.
Secara operasional, Fernandes optimistis dengan tingkat keterisian (load factor) yang mencapai 80% pada kuartal ketiga dan pemesanan yang kuat untuk kuartal keempat. Maskapai juga sedang melakukan restrukturisasi dengan memangkas rute yang kurang menguntungkan, mengembalikan 25 pesawat tua, dan menegosiasikan ulang kontrak dengan vendor untuk menekan biaya.