Story
Bursa Berjangka AS Melemah Tipis Setelah Wall Street Reli Akibat Penurunan Harga Minyak dan Imbal Hasil

Summary
Kontrak berjangka saham AS bergerak sedikit lebih rendah pada perdagangan malam, mengambil jeda setelah reli signifikan di Wall Street yang dipicu oleh penurunan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi pasca-kenaikan suku bunga The Fed.
Kontrak berjangka indeks saham utama AS sedikit melemah pada perdagangan Kamis malam, mendingin setelah Wall Street membukukan kenaikan tajam yang didorong oleh penurunan harga minyak dan imbal hasil Treasury pasca-keputusan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Pergerakan Kontrak Berjangka
Pasar berjangka menunjukkan sedikit koreksi setelah sesi yang kuat di pasar saham. Menurut data perdagangan hingga pukul 19:14 ET (23:14 GMT), pergerakan kontrak berjangka adalah sebagai berikut:
- Kontrak Berjangka S&P 500 turun 0,09% menjadi 7.699,75 poin.
- Kontrak Berjangka Nasdaq 100 turun 0,17% menjadi 29.694,50 poin.
- Kontrak Berjangka Dow Jones turun 0,09% menjadi 52.173,0 poin.
Penurunan tipis ini terjadi setelah sesi perdagangan hari Kamis di mana indeks-indeks utama reli kuat, memutus tren pelemahan selama tiga hari berturut-turut. Indeks S&P 500 melonjak 1,1%, Dow Jones Industrial Average naik 0,6%, dan NASDAQ Composite memimpin penguatan dengan kenaikan 1,7%.
Faktor Pendorong Reli Wall Street
AdReli di Wall Street didukung oleh dua faktor utama: penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi. Harga minyak mentah menghapus kenaikan mingguannya setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi meningkatkan pengiriman minyak ke pembeli di Asia melalui Oman. Langkah ini membantu mengimbangi sebagian gangguan pasokan akibat agresi Houthi di Laut Merah.
Di sisi lain, penurunan tajam imbal hasil obligasi juga mendorong optimisme investor. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun (10-year Treasury yield) turun di bawah level 5% setelah The Fed menaikkan suku bunga. Meskipun kenaikan tersebut disertai dengan nada *hawkish*, keputusan itu memberikan kejelasan yang lebih besar mengenai arah kebijakan moneter ke depan, sehingga mengurangi ketidakpastian di pasar.
Konteks Kebijakan The Fed
Bank sentral AS menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, sebuah langkah yang telah diantisipasi pasar. Ketua The Fed, Kevin Warsh, memperingatkan bahwa inflasi masih terlalu tinggi, yang mengisyaratkan potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut di masa depan.
Namun, investor tampaknya merespons positif terhadap tindakan tegas The Fed untuk mengendalikan inflasi dan menstabilkan ekonomi. Sektor teknologi dan produsen chip menjadi beberapa saham dengan kinerja terbaik selama reli hari Kamis, pulih dari kerugian tajam di awal pekan.