Story

Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Picu Volatilitas Minyak

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 10, 20262 min read
Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Picu Volatilitas Minyak

Summary

Aksi saling serang antara AS dan Iran di Selat Hormuz kembali memanaskan tensi geopolitik, menyebabkan harga minyak melonjak sesaat dan menambah ketidakpastian pada prospek inflasi global.

Text size
Background

Pasar keuangan kembali menyoroti Selat Hormuz setelah serangkaian aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran pekan ini. Eskalasi tersebut memicu lonjakan harga minyak sesaat, meskipun reaksi pasar secara keseluruhan relatif tenang, mengindikasikan investor memperkirakan kedua belah pihak pada akhirnya akan kembali ke meja perundingan.

Rincian Eskalasi Terbaru

Tensi meningkat setelah AS melancarkan serangan terhadap target-target Iran pada hari Selasa, yang disertai dengan pencabutan keringanan sanksi atas minyak Iran. Menurut laporan Reuters, Teheran merespons dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut, yang kemudian dibalas kembali oleh AS pada hari Rabu dan Kamis.

Presiden AS Donald Trump, dalam pertemuan puncak NATO di Ankara, awalnya menyatakan bahwa nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik telah "berakhir", namun kemudian menambahkan bahwa ia tidak mengharapkan terjadinya konflik skala penuh. Respons pasar yang terkendali menunjukkan bahwa investor mungkin telah terbiasa dengan siklus ketegangan ini dan tidak melihatnya sebagai pemicu perang besar.

Dampak Terhadap Pasar Energi dan Inflasi

Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam beberapa minggu pada hari Rabu sebelum kembali melemah keesokan harinya. Harga minyak mentah Brent tetap berada di bawah $80 per barel. Namun, insiden ini menciptakan dilema bagi pasar: di satu sisi, lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz sempat terhenti, mengancam pasokan dari produsen Teluk. Di sisi lain, jika lalu lintas pulih di tengah permintaan global yang lesu, pasar justru bisa menghadapi potensi kelebihan pasokan.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Volatilitas harga minyak ini mempersulit tugas bank sentral dalam memetakan prospek inflasi. Risalah rapat Federal Reserve dari bulan Juni yang dirilis pekan ini menunjukkan bahwa beberapa pejabat melihat adanya potensi kenaikan suku bunga karena tekanan harga yang menjadi "lebih berbasis luas", mengisyaratkan bahwa energi bukan satu-satunya sumber kekhawatiran inflasi.

Dinamika Pasar Lainnya

Kekhawatiran geopolitik dan inflasi turut memicu kenaikan imbal hasil obligasi secara global. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun bahkan sempat mencapai level tertinggi dalam 30 tahun pada hari Kamis, sebelum akhirnya turun kembali setelah menteri keuangan negara itu mengisyaratkan dana pensiun negara akan meningkatkan investasi pada aset domestik.

Di pasar saham, sektor semikonduktor menunjukkan volatilitas tinggi setelah reli kuat pada paruh pertama tahun ini. Saham Samsung Electronics merosot meskipun melaporkan lonjakan laba operasional. Indeks KOSPI Korea Selatan yang padat saham chip sempat memasuki wilayah *bear market* sebelum berbalik menguat pada hari Jumat.

Investor kini menantikan data inflasi harga konsumen AS untuk bulan Juni yang akan dirilis pekan depan. Selain itu, musim laporan keuangan akan dimulai, dengan sejumlah bank besar seperti JPMorgan, Bank of America, dan Goldman Sachs dijadwalkan merilis kinerja mereka.

Back to latest news

LATEST