Story

Penjualan BBM AS ke Sektor Swasta Kuba Buka Celah Kapitalisme di Sektor Energi

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Aug 11, 20262 min read
Penjualan BBM AS ke Sektor Swasta Kuba Buka Celah Kapitalisme di Sektor Energi

Summary

Sebuah pengecualian dalam embargo AS memungkinkan penjualan bahan bakar ke bisnis swasta di Kuba, memicu munculnya pasar gelap yang kacau dan menyoroti reformasi ekonomi di negara tersebut.

Text size
Background

Sebuah pengecualian dalam embargo minyak Washington terhadap Kuba telah memungkinkan perusahaan-perusahaan AS untuk mengekspor bahan bakar ke bisnis swasta di pulau itu untuk pertama kalinya dalam enam dekade. Perkembangan ini memicu munculnya pasar gelap yang kacau dan membuka celah bagi mekanisme pasar di sektor energi yang selama ini dikontrol ketat oleh negara.

Menurut laporan Reuters, langkah ini memberikan sedikit kelegaan di tengah kelumpuhan layanan publik akibat embargo, namun juga memperlebar kesenjangan kekayaan di negara komunis tersebut.

Pengecualian Embargo Memicu Pasar Baru

Di bawah pengecualian yang diberikan oleh Departemen Perdagangan AS, aliran kecil bensin dan solar kini dapat menjangkau restoran, peritel, dan taksi swasta di Kuba. Ini menandai pendaratan bahan bakar AS yang signifikan pertama di pulau Karibia itu sejak Fidel Castro menasionalisasi kilang minyak setelah revolusi 1959.

  • Dari Februari hingga Mei, sekitar 900.000 barel bahan bakar AS telah diimpor, jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi negara itu selama sekitar sembilan hari.
  • Pengiriman ini dimulai setelah pasokan dari pemasok tradisional Kuba, yaitu Venezuela dan Meksiko, terhenti secara tiba-tiba.

Meski memberikan alternatif bagi sektor swasta, impor terbatas ini telah memunculkan pasar penjualan kembali yang berkembang pesat. Harga di pasar gelap sempat mencapai puncaknya pada $10 per liter ($38 per galon) pada musim semi sebelum sedikit menurun seiring bertambahnya volume impor.

Dampak Ekonomi dan Kesenjangan Sosial

Sample IUX Markets – In-articleAd

Bagi sebagian pelaku usaha swasta, pasokan bahan bakar impor memungkinkan mereka untuk terus beroperasi menggunakan generator pribadi di tengah pemadaman listrik bergilir dan runtuhnya sistem transportasi publik. Namun, bagi sebagian besar penduduk, bahan bakar ini tidak terjangkau.

Kesenjangan ini terlihat jelas di jalanan Havana. Seorang supir taksi yang membeli bensin di pasar gelap mungkin mengenakan tarif 1.000 peso untuk sebuah perjalanan, 500 kali lipat dari tarif bus sebesar 2 peso yang seringkali tidak kunjung datang. Dengan gaji rata-rata pemerintah yang hanya sekitar $10 per bulan, bahan bakar impor menjadi barang mewah yang tidak dapat diakses oleh mayoritas dari 9 juta penduduk Kuba.

Reformasi dan Risiko Kepatuhan

Menanggapi blokade minyak, pemerintah Kuba pada bulan Februari untuk pertama kalinya mengizinkan bisnis swasta mengimpor bahan bakar untuk penggunaan mereka sendiri. Pada bulan Juni, legislator menyetujui paket reformasi ekonomi yang lebih luas untuk membuka sektor energi bagi investor swasta dan asing. Hingga akhir Juli, hampir 200 bisnis Kuba telah menerima izin untuk melakukan distribusi grosir bahan bakar ke perusahaan swasta lainnya.

Namun, ekspor ini menimbulkan risiko kepatuhan bagi perusahaan AS. Peraturan ekspor AS menetapkan bahwa bahan bakar harus digunakan oleh sektor swasta dan tidak boleh jatuh ke tangan pemerintah Kuba. Menurut Jorge Piñon, seorang pakar energi Kuba di University of Texas, Austin, "Tidak ada pemantauan apakah pembatasan ini benar-benar dipatuhi."

Saat ini, bahan bakar AS harus melewati pelabuhan dan tangki penyimpanan milik negara yang dikendalikan oleh entitas yang terkena sanksi AS. Perusahaan swasta Kuba menandatangani perjanjian layanan untuk penggunaan infrastruktur ini. Meskipun Reuters tidak menemukan bukti adanya pengalihan bahan bakar, kompleksitas sanksi membuat perusahaan-perusahaan besar AS enggan untuk terlibat.

Back to latest news

LATEST