Story
Pasar Global Bergejolak Akibat Konflik Hormuz, Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed, dan Aksi Jual Obligasi

Pasar global mengakhiri salah satu pekan paling signifikan dalam beberapa waktu terakhir, diwarnai oleh eskalasi militer di Selat Hormuz, perdebatan sengit mengenai kebijakan moneter Federal Reserve, dan aksi jual tajam di pasar obligasi global yang mendorong imbal hasil ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Eskalasi di Selat Hormuz Memicu Lonjakan Harga Minyak
Perkembangan geopolitik paling relevan bagi pasar pekan ini adalah eskalasi militer antara AS dan Iran di Selat Hormuz. Rangkaian peristiwa yang dimulai dengan serangan udara AS pada 31 Agustus dan dibalas oleh Iran beberapa hari kemudian menyebabkan penghentian transit kapal komersial melalui selat strategis tersebut.
Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak, ditutup dengan kenaikan mingguan sekitar +7% dan mencapai level tertinggi 1,5 bulan di $97,62 per barel. Menurut perkiraan ANZ, konflik ini berpotensi menghilangkan 2,3–2,4 miliar barel pasokan dari Teluk Persia pada tahun 2026. Prospek harga minyak sangat bergantung pada sinyal diplomatik, terutama menjelang pertemuan puncak Trump-Xi pada 24 September.
The Fed di Persimpangan Jalan: Probabilitas Kenaikan Suku Bunga Menguat
Perdebatan kebijakan Federal Reserve kembali menjadi pusat perhatian setelah data pekerjaan AS yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan penambahan 162.000 pekerjaan, jauh di atas ekspektasi 56.000. Data yang kuat ini secara signifikan mengubah ekspektasi pasar terhadap langkah The Fed selanjutnya.
Pasar berjangka (*fed funds futures*) kini memperhitungkan probabilitas 61% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC 15-16 September mendatang, naik dari 52% sebelum rilis data. Sentimen ini diperkuat oleh pernyataan *hawkish* dari Ketua The Fed Kevin Warsh, meskipun beberapa pejabat lain seperti Gubernur Christopher Waller menunjukkan sinyal yang lebih kondisional. Para pejabat The Fed kini memasuki periode *blackout* menjelang pertemuan mereka.
AdAksi Jual di Pasar Obligasi dan Dampak Global
Kombinasi dari ketegangan geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga memicu aksi jual yang luas di pasar obligasi global, mendorong imbal hasil ke level bersejarah.
- Imbal hasil Surat Utang AS 10-tahun mencapai ~4,80%, level tertinggi sejak kembalinya pemerintahan Trump.
- Imbal hasil Bund Jerman 10-tahun naik ke 3,37%, tertinggi sejak 2011.
- Imbal hasil Gilt Inggris 30-tahun menyentuh level tertinggi sejak 1998.
- Imbal hasil JGB Jepang 10-tahun untuk pertama kalinya melampaui 3% sejak 1996.
Tekanan pada pasar obligasi diperparah oleh proposal dana abadi Norwegia (Norges Bank) untuk mengurangi alokasi pada Surat Utang AS sebesar ~$80 miliar. Sentimen risk-off juga terlihat dari aliran dana keluar sebesar $11,12 miliar dari reksa dana saham AS, sementara reksa dana pasar uang mencatat arus masuk mingguan terbesar sejak 5 Agustus sebesar $46,1 miliar.
Prospek ke Depan
Investor kini mencermati serangkaian peristiwa penting yang akan datang, termasuk rilis data inflasi CPI AS, pertemuan FOMC pada pertengahan September, dan KTT Trump-Xi pada 24 September yang dapat menentukan arah kebijakan perdagangan, tarif, dan rantai pasok global. Pasar saat ini menavigasi lingkungan makro yang kompleks, ditandai oleh guncangan energi akibat perang, pengetatan moneter global yang sinkron, dan berkurangnya permintaan obligasi pemerintah secara bersamaan.