Story
Marks & Spencer Jadi Saham Ritel Pilihan Utama Morgan Stanley di Eropa

Morgan Stanley telah menetapkan Marks and Spencer (M&S) sebagai pilihan saham teratas (*top pick*) barunya di sektor ritel Eropa, didorong oleh potensi pertumbuhan jangka panjang dari kenaikan pangsa pasar dan inisiatif restrukturisasi biaya. Bank investasi tersebut memberikan peringkat Overweight untuk saham M&S dengan target harga 439 pence.
Proyeksi di Atas Konsensus
Analis Morgan Stanley memproyeksikan bahwa laba per saham (EPS) peritel tersebut untuk tahun fiskal 2028 dan 2029 akan melampaui estimasi konsensus masing-masing sebesar 7% hingga 9%. Proyeksi optimistis ini didasarkan pada keberhasilan inisiatif pemulihan strategis dan antisipasi pemulihan penjualan.
Bank tersebut menyoroti kenaikan pangsa pasar di segmen makanan dan pakaian M&S sebagai kekuatan fundamental yang mendukung peningkatan statusnya. Selain itu, inisiatif strategis yang bertujuan untuk merombak basis biaya jangka panjang perusahaan diperkirakan akan meningkatkan profitabilitas operasional. Proyeksi laba operasional Morgan Stanley untuk tahun fiskal 2028 dan 2029 bahkan 7% hingga 11% lebih tinggi dari konsensus pasar.
Valuasi Menarik dan Potensi *Re-rating*
AdMenurut Morgan Stanley, valuasi saham M&S saat ini tampak tertekan setelah insiden siber yang terjadi sebelumnya. Kondisi ini dinilai menciptakan titik masuk yang menarik bagi investor. Bank investasi tersebut mengantisipasi adanya *re-rating* atau penilaian ulang terhadap valuasi saham seiring dengan pencapaian target jangka menengah oleh perusahaan.
Morgan Stanley memproyeksikan rasio harga terhadap laba (P/E) dapat bergerak menuju 12 kali dari level saat ini yang berada di sekitar 10 kali. Bagi investor yang mencari eksposur ke sektor ritel Eropa melalui perusahaan yang sedang menjalankan transformasi strategis, kondisi pasar saat ini dianggap sebagai peluang.
Risiko Jangka Pendek
Meski memiliki prospek jangka panjang yang positif, Morgan Stanley mengakui adanya tantangan jangka pendek. Laporan tersebut mencatat bahwa data pemulihan mungkin memerlukan waktu sekitar tiga hingga enam bulan untuk terwujud. Terdapat pula risiko awal perdagangan yang lambat pada paruh pertama tahun fiskal 2027.