Story

Negara Teluk Uji Pengaruh China untuk Meredam Iran di Tengah Eskalasi Konflik

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 30, 20262 min read
Negara Teluk Uji Pengaruh China untuk Meredam Iran di Tengah Eskalasi Konflik

Summary

Negara-negara Arab di Teluk Persia dilaporkan meminta China untuk menggunakan pengaruh ekonominya terhadap Iran guna meredakan eskalasi konflik yang mengancam jalur pelayaran minyak utama. Langkah ini menguji sejauh mana kemauan dan kemampuan Beijing dalam menekan Teheran di tengah persaingan kekuatan global.

Text size
Background

Sejumlah negara Arab Teluk kini berpaling ke China, bukan Amerika Serikat, untuk menekan Iran di tengah eskalasi konflik yang mengancam jalur pelayaran energi global. Mereka berharap Beijing dapat menggunakan pengaruh ekonominya yang signifikan atas Teheran untuk mengamankan kembali lalu lintas di Selat Hormuz dan Laut Merah, sebuah langkah yang menguji batas pengaruh diplomatik China di Timur Tengah.

Latar Belakang: Frustrasi di Tengah Eskalasi

Menurut laporan Reuters yang mengutip tiga sumber regional, dorongan negara-negara Teluk ini didasari oleh meningkatnya frustrasi. Konflik yang melibatkan serangan AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari disebut telah memukul musuh regional mereka, namun juga secara signifikan menghambat ekspor energi vital mereka sendiri.

Dengan ancaman dari Iran dan sekutunya terhadap jalur air strategis seperti Bab el-Mandeb di Laut Merah serta Selat Hormuz, negara-negara Teluk mencari bantuan Beijing. Menurut para sumber, konflik ini telah memperlihatkan keterbatasan kekuatan Amerika, mendorong mereka untuk mencari mediator alternatif.

Peran Diplomatik dan Batasan Pengaruh China

China telah merespons dengan upaya diplomatik. Menteri Luar Negeri Wang Yi dilaporkan telah mengadakan puluhan panggilan telepon dan pertemuan, sementara utusan khususnya, Zhai Jun, telah melakukan pembicaraan di ibu kota negara-negara Teluk dan Iran. "China telah menjaga komunikasi yang erat dengan semua pihak, dan secara konsisten bekerja untuk menghentikan pertempuran dan mempromosikan perdamaian," kata kementerian luar negeri China dalam sebuah pernyataan.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Namun, pengaruh Beijing dinilai memiliki batasan. Seorang sumber Teluk kedua menyatakan, "China ternyata tidak berpengaruh seperti yang kami kira—apakah itu karena kurangnya kemauan atau kurangnya kapasitas masih bisa diperdebatkan." Para analis, seperti Henry Tugendhat dari Washington Institute, mengatakan prioritas utama Beijing adalah menjaga hubungan dengan semua pihak di kawasan, bukan secara terbuka memihak salah satu kubu, terutama saat AS terlibat langsung.

Implikasi bagi Pasar dan Kepentingan Global

Bagi pasar global, setiap gangguan di Selat Hormuz merupakan ancaman besar bagi pasokan energi dunia. Sikap hati-hati China mencerminkan strategi jangka panjangnya untuk menghindari komitmen keamanan yang mengikat di luar kepentingan utamanya di Asia Timur. Berbeda dengan AS, yang memiliki aliansi pertahanan, China lebih memilih kemitraan yang dibangun di atas perdagangan dan investasi.

Upaya diplomatik China sejauh ini hanya menghasilkan kesepakatan bilateral sempit, seperti pembicaraan langsung dengan gerakan Houthi di Yaman untuk memastikan keamanan kapal-kapal tankernya sendiri. Menurut Anna Borshchevskaya dari Washington Institute, pendekatan ini melindungi kepentingan China sendiri tetapi tidak menyelesaikan ancaman yang lebih luas terhadap pelayaran internasional. Pada akhirnya, negara-negara Teluk menyadari bahwa meskipun mereka dapat membeli teknologi dan investasi China, mereka tidak dapat "membeli pengaruh China yang beroperasi secara independen dari hubungannya dengan Washington," kata seorang sumber yang mengetahui diskusi tersebut.

Back to latest news

LATEST