Story
Imbal Hasil US Treasury 10-Tahun Sempat Tembus 5% untuk Pertama Kali Sejak 2024

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan pasar global, sempat menembus level psikologis 5% untuk pertama kalinya sejak tahun 2024. Lonjakan ini terjadi pada hari Jumat, dipicu oleh data inflasi yang lebih kuat dari perkiraan yang memperkuat ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Data Inflasi Memicu Aksi Jual
Pemicu utama kenaikan imbal hasil adalah rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Agustus dari Departemen Tenaga Kerja AS. Data tersebut menunjukkan IHK tahunan bertahan di angka 3,4%, sementara IHK inti (tidak termasuk makanan dan energi) naik 0,3% secara bulanan, melampaui konsensus pasar sebesar 0,2%.
Data ini diperkuat oleh Indeks Harga Produsen (IHP) yang dirilis sehari sebelumnya, yang menunjukkan kenaikan tahunan sebesar 5,4%. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi, terutama dari biaya energi, mulai merambat ke konsumen dan meningkatkan kemungkinan The Fed akan mengambil tindakan yang lebih agresif.
Dampak pada Ekspektasi Suku Bunga
Menyusul rilis data IHK, probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin oleh The Fed pada pertemuan 15-16 September melonjak tajam. Menurut CME FedWatch Tool, ekspektasi pasar untuk kenaikan tersebut meningkat dari 71% menjadi 88%.
AdSentimen ini juga didukung oleh langkah bank sentral lain, di mana European Central Bank (ECB) pada hari Kamis telah menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin menjadi 2,50%. Secara spesifik, imbal hasil Treasury 10-tahun melonjak 6,3 basis poin dari 4,942% menjadi 5,005%. Sementara itu, imbal hasil 2-tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter naik tipis ke 4,61% dan imbal hasil 30-tahun berada di 5,338%.
Arti Penting Level 5%
Level 5% merupakan ambang batas krusial bagi para manajer aset institusional dan kondisi keuangan secara keseluruhan. Sebagai tolok ukur global untuk tingkat imbal hasil bebas risiko (*risk-free rate*), kenaikan imbal hasil 10-tahun ke level ini akan mengatur ulang model valuasi untuk aset berisiko seperti saham, meningkatkan biaya pembiayaan ulang perusahaan, dan mendorong suku bunga hipotek ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Imbal hasil bebas risiko yang lebih tinggi akan menekan premi risiko ekuitas, membuat aset pendapatan tetap menjadi semakin menarik dibandingkan dengan saham. Jika imbal hasil bertahan di atas 5%, hal ini secara efektif akan menciptakan pengetatan moneter pasif dengan menaikkan biaya pinjaman riil bagi konsumen dan bisnis, bahkan tanpa perlu tindakan kenaikan suku bunga langsung dari The Fed.