Story
Produsen Mobil Tiongkok Tingkatkan Tekanan, Paksa Rival di Inggris Beri Diskon Besar

Summary
Masuknya merek-merek mobil Tiongkok ke pasar Inggris memaksa produsen otomotif tradisional untuk menawarkan diskon besar guna bersaing, menurut kepala badan industri otomotif negara tersebut.
Gelombang masuknya produsen mobil Tiongkok ke pasar Inggris telah meningkatkan tekanan secara signifikan terhadap para produsen tradisional, memaksa mereka untuk memberikan diskon yang lebih besar untuk bersaing dengan mobil impor berbiaya lebih rendah. Hal ini diungkapkan oleh kepala badan industri otomotif utama Inggris.
Tekanan Kompetisi dan Strategi Diskon
Mike Hawes, CEO Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT), menyatakan bahwa produsen mobil di Inggris berada di bawah tekanan yang luar biasa karena kemampuan produsen Tiongkok untuk memproduksi kendaraan berkualitas dengan biaya lebih murah. Hal ini secara langsung berdampak pada strategi penetapan harga di pasar.
"Ada banyak praktik diskon yang terjadi di pasar saat ini," kata Hawes dalam sebuah pengarahan pada hari Kamis. "Itu pada dasarnya adalah upaya untuk bersaing dengan merek Tiongkok."
Pangsa Pasar Merek Tiongkok Melonjak
Kompetisi yang semakin ketat ini tercermin dalam data pasar. Menurut SMMT, merek-merek milik Tiongkok kini menyumbang sekitar 15% dari total registrasi mobil baru di Inggris. Beberapa merek yang memimpin ekspansi ini antara lain MG milik SAIC Motor, BYD, serta JAECOO dan OMODA milik Chery, yang menawarkan model mobil listrik dan *plug-in hybrid* dengan harga kompetitif.
AdHawes menambahkan bahwa peningkatan persaingan ini adalah salah satu dari beberapa faktor di balik kontraksi manufaktur kendaraan di Inggris. Produksi kendaraan di negara itu turun 7,5% pada paruh pertama tahun 2026, yang juga dipengaruhi oleh ketidakpastian perdagangan dan investasi yang lebih rendah.
Konteks Eropa dan Sikap Inggris
Di seluruh Eropa, produsen mobil menghadapi tantangan serupa dari para pesaing Tiongkok. Pekan lalu, Volkswagen dari Jerman mengumumkan akan memperdalam pemangkasan biaya untuk tetap kompetitif. Tekanan ini terus berlanjut meskipun Uni Eropa telah memberlakukan tarif terhadap kendaraan listrik buatan Tiongkok pada tahun 2024 setelah menyimpulkan bahwa mereka mendapat manfaat dari subsidi negara yang tidak adil.
Inggris, yang telah keluar dari Uni Eropa, belum memberlakukan tarif serupa. Hawes menjelaskan bahwa penyelidikan apa pun terhadap impor dari Tiongkok harus dipicu oleh keluhan dari produsen Inggris, dan sejauh pengetahuannya, belum ada keluhan yang diajukan. Ia juga menyoroti tekanan lain yang dihadapi industri otomotif Inggris, termasuk biaya energi yang tinggi, investasi yang lemah, dan regulasi.