Story
UBS Jagokan Saham Vale dan Merdeka Battery di Tengah Pergeseran Pasokan Nikel Indonesia

Summary
UBS merekomendasikan saham nikel Vale Indonesia dan Merdeka Battery seiring perubahan kebijakan di Indonesia yang berpotensi mengubah pasar nikel global dari surplus menjadi defisit.
UBS telah mengidentifikasi pilihan saham teratasnya di sektor pertambangan nikel, seiring perubahan kebijakan pemerintah Indonesia yang membentuk kembali prospek pasokan global dan berpotensi menggeser pasar dari kondisi surplus ke defisit.
Menurut analisis UBS, perubahan regulasi di Indonesia secara fundamental telah mengubah dinamika pasokan di pasar nikel global.
Pergeseran Lanskap Pasokan Nikel
Pasar nikel global telah mengalami surplus yang cukup besar sejak 2022. Namun, menurut UBS, beberapa perkembangan kebijakan di Indonesia baru-baru ini telah memperketat kondisi pasokan secara signifikan. Faktor-faktor utama tersebut antara lain:
- Larangan izin smelter baru.
- Pembatasan kuota bijih nikel jenis saprolit.
- Pemangkasan produksi *nickel pig iron* (NPI) dan *matte* karena pengalihan daya listrik ke produksi aluminium.
- Pemotongan produksi melalui proses *high-pressure acid leaching* (HPAL) akibat kekurangan sulfur dan kenaikan biaya bijih limonit.
Faktor-faktor ini mendorong UBS untuk memproyeksikan kontraksi pasokan nikel global, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan defisit dalam skala moderat.
Prospek Pasar dan Dampak Harga
AdMeskipun prospek pasar nikel membaik, UBS mengingatkan bahwa kenaikan harga yang berkelanjutan kemungkinan akan terbatas di atas level $20.000 per ton. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat inventaris saat ini serta potensi pelonggaran kuota atau pengaktifan kembali produksi di masa depan.
UBS meyakini bahwa kebijakan Indonesia, seperti pemotongan kuota dan realokasi daya, lebih ditujukan untuk mencegah surplus yang berkepanjangan daripada secara sengaja menciptakan defisit. Kebijakan ini dinilai masih dapat berubah sewaktu-waktu.
Pilihan Saham Unggulan UBS
Dalam laporannya, UBS menyatakan preferensinya terhadap eksposur pada nikel Kelas-2 (Class-2) dibandingkan nikel Kelas-1 (Class-1) dan produk kimia turunannya. Berdasarkan analisis ini, UBS merekomendasikan dua emiten:
- Vale Indonesia (INCO): Menjadi pilihan utama UBS. Perusahaan ini dinilai diuntungkan oleh posisinya di pasar Indonesia di tengah lanskap pasokan yang mengetat.
- Merdeka Battery Materials (MBMA): Pilihan kedua UBS. MBMA diposisikan untuk memanfaatkan dinamika pasar nikel yang terus berkembang, sejalan dengan preferensi UBS terhadap produsen nikel Kelas-2.