Story
Menkeu AS Bessent Hadapi Ujian Diplomasi G20 di Tengah Isu Tarif, Iran, dan Gejolak Obligasi

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menghadapi ujian besar dalam diplomasi ekonominya pekan ini saat ia bertemu dengan para pemimpin keuangan G20. Bessent akan mendorong agenda untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan global, meningkatkan pertumbuhan, dan memperketat sanksi terhadap Iran, sambil mencoba menenangkan kekhawatiran pasar atas meningkatnya utang dan imbal hasil obligasi AS.
Agenda AS dan Potensi Perdebatan
Pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral di Asheville, North Carolina, ini menandai upaya pemerintahan Trump untuk menegaskan kembali kepemimpinan AS dalam forum G20. Agenda utama Bessent adalah menekan negara-negara anggota untuk memutuskan hubungan bisnis dengan Iran, dan ia telah memperingatkan adanya sanksi sekunder bagi mereka yang terus membeli minyak Iran.
Namun, banyak negara anggota diperkirakan akan mengalihkan fokus pembicaraan. "Menteri Bessent ingin menempatkan Iran di barisan depan... dan banyak negara di meja G20 akan ingin membicarakan hal lain," kata Josh Lipsky, ketua ekonomi internasional di Atlantic Council. "Mereka akan ingin membicarakan tarif."
Tekanan ini muncul di tengah ketidakpastian mengenai langkah-langkah tarif AS berikutnya, perang dagang dengan Kanada, dan harga komoditas yang tinggi akibat konflik Iran yang telah menutup Selat Hormuz.
Ketegangan Perdagangan dan Neraca Global
Tarif menjadi pusat upaya pemerintahan Trump untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan global, yang menurut seorang pejabat senior Departemen Keuangan AS disebabkan oleh "kebijakan ekonomi pemerintah yang distortif." Pada bulan Juli, AS memberlakukan tarif 10% atau 12,5% terhadap 60 negara, termasuk semua anggota G20, atas tuduhan lemahnya penegakan larangan kerja paksa.
AdDi sisi lain, para pejabat Eropa ingin membahas lonjakan ekspor Tiongkok yang mengancam industri mereka, terutama otomotif. Dengan permintaan domestik yang lemah, total ekspor Tiongkok naik 23,9% pada bulan Juli secara tahunan. Dana Moneter Internasional (IMF) juga memperkirakan bahwa yuan Tiongkok dinilai lebih rendah (undervalued) sebesar 21%.
Sorotan pada Utang dan Pasar Obligasi AS
Negara-negara G20 juga kemungkinan besar akan menyuarakan keprihatinan atas kondisi fiskal AS. Total utang publik AS telah melampaui $40 triliun pada 19 Agustus, dan pasar semakin gelisah mengenai lintasan utang negara tersebut di masa depan.
Imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam 19 tahun bulan ini. Sebagai respons, Bessent mengumumkan penggandaan jadwal pembelian kembali (*buybacks*) obligasi jangka panjang menjadi $4 miliar per operasi, sebuah langkah yang sempat mendinginkan imbal hasil tetapi menuai kritik dan kekhawatiran akan adanya intervensi lebih lanjut di pasar.
Seorang pejabat senior Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa imbal hasil obligasi jangka panjang telah "naik di atas apa yang kami anggap sebagai nilai wajar," dan Departemen Keuangan berkomitmen untuk menurunkannya. Namun, Mark Sobel, mantan pejabat Departemen Keuangan AS, mengatakan bahwa para menteri G20 "tidak akan percaya pada kata-kata yang menenangkan," terutama karena ekonomi mereka terkena dampak negatif dari kebijakan AS terhadap Iran.