Story
Ketua Baru Sinopec Rombak Raksasa Kilang Minyak di Tengah Pergeseran Energi

Summary
Menghadapi penurunan permintaan bahan bakar dan kelebihan kapasitas petrokimia, Ketua Sinopec Hou Qijun meluncurkan restrukturisasi besar untuk mengalihkan fokus perusahaan ke energi baru dan material bernilai tinggi.
Ketua Sinopec, Hou Qijun, telah meluncurkan perombakan besar-besaran terhadap perusahaan kilang minyak terbesar di dunia tersebut. Langkah ini diambil untuk mengatasi tantangan berat seperti penurunan permintaan bahan bakar, kelebihan kapasitas di sektor petrokimia, dan apa yang disebutnya sebagai inersia institusional.
Tekanan Ganda dan Visi Transformasi
Di bawah kepemimpinan Hou yang baru berjalan setahun, Sinopec menghadapi kenyataan pasar yang berubah drastis. Penjualan bahan bakar perusahaan telah anjlok ke level tahun 2017 karena meluasnya elektrifikasi kendaraan. Situasi ini memaksa adanya perubahan strategi yang fundamental.
"Bensin dibuat untuk mobil, namun setengah dari mobil baru tidak lagi membutuhkan bahan bakar... Dalam keadaan ini, bagaimana bisa memproduksi lebih banyak bensin dan solar terus menghasilkan pendapatan?" ujar Hou dalam sebuah pengarahan pendapatan di Hong Kong. Ia menegaskan perlunya perusahaan memproduksi lebih banyak material kimia dan mengembangkan energi baru.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara (SASAC) China pada bulan Juli, Hou secara blak-blakan mengidentifikasi "sindrom perusahaan besar" dan "inersia sistem dan institusional" sebagai rintangan terbesar bagi transformasi perusahaan.
Restrukturisasi dan Alokasi Modal Baru
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Hou telah merombak struktur bisnis Sinopec menjadi empat pusat laba yang lebih gesit:
Ad- Minyak, gas, dan energi baru
- Kilang dan kimia
- Keuangan dan bisnis baru strategis
- Perdagangan global yang digabungkan dengan tim pemasaran
Komitmen terhadap perubahan ini didukung oleh alokasi modal yang signifikan. Sinopec berencana mengalokasikan sekitar 20% dari belanja modal tahunannya, atau lebih dari 30 miliar yuan ($4,46 miliar), untuk energi baru dan material baru selama periode 2026 hingga 2030. Rencana hingga tahun 2030 ini mencakup lebih dari 30 proyek, mulai dari pengembangan minyak serpih (*shale oil*) hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan (*sustainable aviation fuel*).
Latar Belakang dan Prospek Kepemimpinan
Hou Qijun, seorang ahli geologi dengan pengalaman luas di China National Petroleum Corp (CNPC) dan PipeChina, dikenal sebagai sosok yang tegas dan pekerja keras. Seorang eksekutif investor institusional China yang tidak disebutkan namanya menggambarkannya sebagai salah satu dari sedikit eksekutif BUMN yang, meskipun mendekati usia pensiun, "bersemangat dan ingin membuat beberapa perubahan" untuk menyelamatkan Sinopec.
Analis mencatat bahwa pengalaman Hou di seluruh rantai nilai energi memberinya posisi yang unik. Namun, tantangan tetap ada. Michal Maiden, direktur program China di Oxford Institute for Energy Studies, mempertanyakan bagaimana Sinopec akan bersaing dengan para pemain non-negara di sektor energi baru yang sangat kompetitif. Di tengah upaya transformasi jangka panjang ini, kinerja keuangan jangka pendek perusahaan tetap solid, dengan Sinopec melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 19% untuk paruh pertama tahun 2026.