Story
Saham Penambang Perak Anjlok Akibat Eskalasi Iran Tekan Harga Komoditas

Summary
Harga perak spot turun tajam di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, yang memicu kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sehingga menekan saham-saham seperti Hecla Mining dan Coeur Mining.
Saham-saham perusahaan tambang perak anjlok pada perdagangan hari Kamis, mengikuti penurunan tajam harga perak spot. Sentimen negatif ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Penurunan Harga dan Dampak ke Emiten
Harga perak spot anjlok 1,7% menjadi $56,82 per ounce pada hari Kamis, melanjutkan tren pelemahan yang signifikan. Menurut data Investing.com, harga logam mulia ini telah merosot sekitar 52% dari level tertinggi sepanjang masanya di $121,62 per ounce yang tercatat pada Januari 2026.
Penurunan harga komoditas ini secara langsung menekan saham-saham produsen dengan leverage operasional yang tinggi terhadap harga perak. Beberapa emiten yang terdampak antara lain:
- Hecla Mining (NYSE: HL)
- Coeur Mining (NYSE: CDE)
- Endeavour Silver (NYSE: EXK)
- Silvercorp Metals (NYSE: SVM)
Secara khusus, Scotiabank memangkas target harga untuk Hecla menjadi $21 dari sebelumnya $25, dengan alasan tekanan berkelanjutan pada harga perak. Hecla memperoleh sekitar 73% dari pendapatannya pada kuartal pertama 2026 dari penjualan perak. Sementara itu, saham Coeur Mining telah anjlok lebih dari 6% dalam beberapa sesi terakhir, menyoroti penyempitan margin keuntungan karena biaya penopang keseluruhan (*all-in sustaining cost*) perusahaan berada di kisaran $15 hingga $16,25 per ounce.
Pemicu Makroekonomi dan Prospek Suku Bunga
AdPemicu utama pelemahan perak adalah faktor geopolitik. Serangan AS terhadap pertahanan pesisir Iran dan penerapan kembali blokade laut telah mendorong kenaikan harga minyak, yang pada gilirannya memicu narasi inflasi. Hal ini meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti perak.
Akibatnya, para pedagang kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga oleh The Fed pada bulan September mencapai sekitar 51%, menurut data CME FedWatch yang dikutip oleh analisis Investing.com. Ekspektasi ini menjadi penekan langsung bagi logam mulia dan saham-saham yang terkait.
"Emas terus ditentukan oleh inflasi dan geopolitik. Serangan AS yang berkelanjutan terhadap Iran dan gangguan di Selat Hormuz mendukung harga minyak dan mempertahankan risiko inflasi," kata Niko Tzabouras, analis pasar senior di Tradu.com, seperti dikutip Investing.com. Ia menambahkan bahwa de-eskalasi atau dimulainya kembali perundingan akan menjadi skenario terbaik untuk emas dan perak.
Konteks Pasar yang Lebih Luas
Kelemahan ini tidak hanya terbatas pada saham-saham yang terdaftar di AS. Sub-indeks penambang logam mulia di bursa FTSE 100 London juga turun 2,7% pada hari Rabu karena narasi inflasi yang sama menekan harga emas dan perak secara global, lapor Reuters.
Investor kini menantikan pidato dari Presiden Fed Dallas Lorie Logan dan Wakil Ketua Fed Philip Jefferson yang dijadwalkan pada hari Kamis. Setiap perubahan nada terkait keputusan suku bunga bulan September dapat menggerakkan ekspektasi pasar dan secara langsung memengaruhi kompleks logam mulia yang sensitif terhadap suku bunga.