Story
RUU Kripto AS Gagal di Senat, Saham Coinbase dan Circle Tertekan Ketidakpastian Regulasi

Upaya untuk menciptakan kerangka regulasi aset kripto yang komprehensif di Amerika Serikat mengalami kemunduran besar setelah RUU 'Clarity Act' gagal disahkan di Senat pada 15 September. Kegagalan ini menempatkan perusahaan-perusahaan kripto yang terdaftar di bursa dalam periode ketidakpastian yang berkepanjangan, yang secara langsung berdampak pada prospek bisnis dan valuasi saham mereka.
Kegagalan Tipis di Tengah Polarisasi Politik
RUU tersebut gagal melewati ambang batas 60 suara yang diperlukan, dengan hasil akhir pemungutan suara 50-49. Menurut laporan Investing.com, kegagalan ini disebabkan oleh perselisihan di menit-menit akhir terkait ketentuan etika yang berhubungan dengan kepemilikan kripto mantan Presiden Trump dan perdebatan mengenai imbal hasil (yield) stablecoin yang menjadi sumber konflik dengan lobi perbankan.
Dengan Kongres yang akan memasuki masa reses menjelang pemilihan sela bulan November, kecil kemungkinan legislasi serupa akan dibahas kembali hingga setidaknya kuartal pertama 2027. Hal ini secara efektif membekukan upaya legislatif untuk memberikan kejelasan bagi industri aset digital di AS.
Dampak Langsung pada Saham Kripto
Pasar merespons negatif berita ini, dengan saham-saham yang bisnisnya sangat bergantung pada kejelasan regulasi mengalami tekanan jual yang signifikan. Tanpa kejelasan hukum, rencana ekspansi dan peluncuran produk baru menjadi sangat berisiko.
Ad- Coinbase Global (COIN): Sahamnya anjlok 10,1%. Bagi Coinbase, ketidakpastian ini menghambat ekspansi model bisnisnya ke layanan seperti kustodian, staking, dan pinjaman, karena setiap produk baru membawa risiko klasifikasi sebagai sekuritas oleh SEC.
- Circle Internet Group (CRCL): Mengalami penurunan paling tajam sebesar 11,4%. Model pendapatan inti Circle terkait imbal hasil stablecoin kini berada di wilayah abu-abu hukum, yang dapat membekukan peta jalan produk perusahaan.
- MicroStrategy (MSTR): Terkena dampak yang lebih kecil dengan penurunan 5,4%. Model bisnis MSTR yang berfokus pada kepemilikan Bitcoin sebagai aset cadangan membuatnya lebih terisolasi, karena status Bitcoin sebagai komoditas sudah relatif mapan.
Prospek Regulasi Bergeser ke Lembaga Pemerintah
Dengan gagalnya jalur legislatif, tanggung jawab untuk mengisi kekosongan peraturan kini beralih ke lembaga seperti Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) dan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC). Namun, peraturan yang dibuat oleh lembaga pemerintah dinilai lebih lambat, kurang permanen, dan dapat diubah oleh pemerintahan di masa depan.
CEO Galaxy, Mike Novogratz, menyatakan pesimismenya dengan mengatakan, "Kita mungkin tidak akan mendapatkan regulasi kripto untuk waktu yang sangat lama—jika überhaupt." Ketidakpastian ini juga meningkatkan risiko perusahaan-perusahaan kripto AS memindahkan operasi mereka ke luar negeri untuk mencari yurisdiksi dengan peraturan yang lebih jelas, sebuah dinamika yang justru ingin dicegah oleh RUU tersebut.