Story

Pershing Square Kembali Beli Saham Netflix, Apa yang Berbeda Kali Ini?

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Aug 13, 20263 min read
Pershing Square Kembali Beli Saham Netflix, Apa yang Berbeda Kali Ini?
Text size
Background

Dana lindung nilai milik miliarder Bill Ackman, Pershing Square, telah mengambil posisi baru di Netflix Inc. (NFLX), menandai kembalinya investasi setelah keluar dengan kerugian signifikan pada tahun 2022. Menurut laporan keterbukaan informasi terbaru, per 30 Juni, Pershing Square memegang 3,15 juta lembar saham Netflix, yang mewakili 4,9% dari portofolionya.

Langkah ini menjadi sorotan karena pada awal 2022, Pershing Square berinvestasi lebih dari $1 miliar di Netflix, namun menjual seluruh posisinya hanya beberapa bulan kemudian dengan kerugian lebih dari $400 juta. Kembalinya Ackman menunjukkan bahwa ia mungkin melihat adanya katalis nilai yang terlewatkan oleh pasar pada valuasi raksasa streaming yang saat ini lebih rendah.

Alasan di Balik Investasi Baru

Investasi Pershing Square sering kali didasarkan pada identifikasi aset berkualitas yang diperdagangkan dengan diskon karena sentimen pasar yang negatif, dengan potensi kenaikan nilai di masa depan. Ada beberapa faktor yang mungkin mendukung tesis investasi baru di Netflix kali ini:

  • Ekspansi Margin yang Berkelanjutan: Netflix menargetkan margin operasi mencapai 31,5% pada tahun 2026, naik dari sekitar 25% dua tahun sebelumnya. Ini didorong oleh skala bisnis yang efisien, bukan sekadar pemotongan biaya.
  • Pertumbuhan Bisnis Iklan: Pendapatan dari iklan diproyeksikan akan berlipat ganda menjadi $3 miliar pada tahun 2026. Dengan 55% pelanggan baru memilih paket yang didukung iklan, ini menjadi sumber pendapatan baru dengan margin tinggi.
  • Peluang Pertumbuhan Baru: Ekspansi ke sektor *gaming* dan konten siaran langsung (*live events*) secara signifikan memperluas pasar yang dapat dijangkau (*Total Addressable Market*). Netflix saat ini baru menguasai sekitar 7% dari pasar potensial senilai $670 miliar.
  • Program Pembelian Kembali Saham: Netflix secara agresif mengembalikan modal kepada pemegang saham, dengan otorisasi pembelian kembali saham yang tersisa sebesar $27 miliar. Pada harga saham yang lebih rendah, setiap dolar yang digunakan untuk *buyback* dapat menarik lebih banyak saham dari peredaran, yang menguntungkan pemegang saham lainnya.

Risiko dan Keraguan Pasar

Meskipun ada argumen yang kuat, pasar tetap memiliki keraguan terhadap prospek Netflix. Para investor yang skeptis menyoroti beberapa tantangan yang masih harus dihadapi oleh perusahaan.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Salah satu kekhawatiran utama adalah perlambatan pertumbuhan pendapatan, yang diperkirakan akan turun dari 16% menjadi 13-14% untuk setahun penuh 2026. Selain itu, valuasi Netflix, meskipun lebih rendah dari puncaknya, masih dianggap tidak murah secara absolut jika dilihat dari rasio terhadap EBITDA dan pendapatan. Sentimen negatif juga ditambah oleh penjualan saham oleh CEO Ted Sarandos baru-baru ini, meskipun dilakukan di bawah rencana yang telah diatur sebelumnya.

Persaingan di industri streaming juga semakin ketat. Rival seperti Disney+, Amazon, dan Apple memiliki sumber daya finansial yang jauh lebih besar untuk diinvestasikan dalam konten, yang berpotensi menggerus pangsa pasar Netflix dalam jangka panjang.

Prospek ke Depan

Keputusan Ackman untuk berinvestasi kembali menunjukkan keyakinan bahwa Netflix adalah "pemenang yang salah harga untuk sementara waktu", bukan bisnis yang rusak secara fundamental. Tesisnya kemungkinan bertumpu pada keyakinan bahwa perlambatan pertumbuhan saat ini bersifat sementara dan akan dinormalisasi seiring dengan matangnya sumber pendapatan baru seperti iklan.

Dengan arus kas bebas (*free cash flow*) yang mencapai $11,15 miliar dan *Return on Equity* (ROE) sebesar 49,5%, valuasi Netflix pada rasio P/E ke depan sekitar 20,5x tampak menarik bagi investor seperti Ackman. Keberhasilan investasi ini akan sangat bergantung pada apakah Netflix mampu membuktikan bahwa mereka dapat memonetisasi peluang baru dan mempertahankan dominasinya di tengah lanskap media yang terus berubah.

Back to latest news

LATEST