Story
Goldman Sachs: Jepang di Fase Awal Gelombang Aktivitas Buyout Korporasi

Summary
Jepang berada di "fase awal" dari peningkatan aktivitas buyout korporasi dan private equity, didorong oleh reformasi tata kelola dan pasar saham yang matang untuk konsolidasi, menurut Goldman Sachs Asset Management.
Aktivitas *buyout* korporasi dan *private equity* di Jepang berada dalam "fase awal" dan pasar saham negara tersebut memiliki posisi yang baik untuk konsolidasi, menurut Stephanie Hui dari Goldman Sachs Asset Management. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Reuters NEXT Asia di Singapura.
Pendorong Aktivitas M&A di Jepang
Hui mengidentifikasi Jepang, bersama Korea Selatan dan Australia, sebagai wilayah paling prospektif di Asia untuk merger dan akuisisi (M&A) atau transaksi *go-private*. Hal ini didasari oleh ekonomi yang stabil dan banyaknya perusahaan berskala besar di negara-negara tersebut.
Minat investor, terutama dari perusahaan *private equity* asing, telah meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir. Tren ini didorong oleh perubahan peraturan tata kelola perusahaan yang menekan dewan direksi untuk meningkatkan imbal hasil bagi investor. Hui menyoroti beberapa faktor kunci:
- Jumlah Perusahaan Terdaftar: Jepang memiliki 4.000 perusahaan tercatat, hampir sama dengan AS (5.000) yang ukuran ekonominya enam kali lebih besar. Sebagai perbandingan, Jerman yang ukuran ekonominya serupa dengan Jepang hanya memiliki 400 perusahaan tercatat.
- Potensi Konsolidasi: Disparitas ini menunjukkan bahwa pasar Jepang memiliki "terlalu banyak" perusahaan publik dan matang untuk konsolidasi.
- Target Akuisisi: Terdapat lebih dari 1.000 perusahaan di Jepang dengan pendapatan di atas $1 miliar per tahun, menjadikannya target yang menarik bagi pembeli *private equity* asing.
AdTransaksi Terkini dan Dampak Pasar
Beberapa transaksi besar baru-baru ini menggarisbawahi tren ini. Contohnya termasuk langkah KKR untuk menjadikan perusahaan kimia Taiyo Holdings sebagai perusahaan tertutup, serta persaingan antara Bain Capital, LY Corp milik SoftBank, dan EQT untuk mengakuisisi perusahaan internet Kakaku.com.
Menurut Hui, peningkatan aktivitas *private equity* ini telah mendorong fokus yang lebih besar pada efisiensi perusahaan, penciptaan nilai pemegang saham, dan digitalisasi di seluruh perekonomian Jepang. "Kita baru berada di fase awal dari proses ini," ujarnya, mengindikasikan potensi pertumbuhan aktivitas M&A di masa depan.