Story

CICC: El Niño Super Ancam Produksi Jagung dan Sawit, Harga Berpotensi Naik

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Sep 18, 20262 min read
CICC: El Niño Super Ancam Produksi Jagung dan Sawit, Harga Berpotensi Naik
Text size
Background

China International Capital Corporation (CICC) dalam laporan riset terbarunya menyatakan bahwa fenomena "El Niño super" yang akan datang berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak pencatatan dimulai. Mengutip proyeksi dari NOAA, CICC memperingatkan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini dapat berdampak signifikan terhadap produksi komoditas pertanian global dan mendorong harga lebih tinggi.

Dampak Historis pada Komoditas Utama

El Niño adalah fenomena pemanasan abnormal suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang biasanya mencapai puncaknya antara November dan Januari. Peristiwa ini secara historis menyebabkan suhu global yang lebih tinggi, curah hujan berlebih di benua Amerika, dan kekeringan parah di Asia Tenggara.

Analisis CICC terhadap tiga peristiwa El Niño super sejak tahun 1960 menunjukkan pola yang jelas pada beberapa komoditas:

  • Jagung: Produksi global menurun dalam ketiga peristiwa tersebut. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh Brasil, di mana dua dari tiga peristiwa menyebabkan penyusutan areal tanam sebesar 17-18%.
  • Minyak Sawit: Produksi juga menurun dalam ketiga peristiwa El Niño super. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi area produksi yang tinggi di Asia Tenggara, wilayah yang secara konsisten mengalami kekeringan selama El Niño.
  • Kedelai: Dampaknya cenderung beragam, dengan produksi justru meningkat dalam dua dari tiga peristiwa. El Niño dapat menyebabkan kekeringan di Brasil utara namun meningkatkan curah hujan di selatan, sehingga efek netonya secara historis lebih sering positif.

Proyeksi Harga di Tengah Berbagai Faktor

Sample IUX Markets – In-articleAd

CICC memproyeksikan bahwa dampak El Niño akan diperkuat oleh kondisi fundamental pasar yang sudah beralih dari surplus ke keseimbangan yang ketat. Selain faktor cuaca, kenaikan harga minyak mentah—yang meningkatkan biaya tanam dan permintaan biofuel—serta gangguan pengiriman di Laut Hitam dan potensi hambatan di Selat Hormuz, menjadi katalisator tambahan bagi kenaikan harga.

Berdasarkan skenario netral, CICC memperkirakan harga jagung dan kedelai di bursa CBOT berpotensi naik masing-masing sebesar 20% dan 10% dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Proyeksi ini didasarkan pada model mereka yang menunjukkan bahwa setiap penurunan 1 poin persentase dalam rasio stok terhadap penggunaan (stock-to-use ratio) global dapat menaikkan harga jagung sekitar 20% dan kedelai sekitar 9%.

Konteks Pasar dan Risiko

Sementara pasar global bersiap menghadapi potensi guncangan pasokan, CICC mencatat bahwa pasokan biji-bijian pokok di Tiongkok, seperti gandum dan beras, cukup terjamin. Hal ini diperkirakan akan membatasi dampak cuaca ekstrem terhadap pasar domestik negara tersebut.

Namun, para investor tetap perlu mewaspadai berbagai risiko yang dapat memengaruhi pasar. CICC menyoroti tiga risiko utama: kemungkinan cuaca ekstrem yang lebih buruk dari perkiraan, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan friksi perdagangan yang dapat mengganggu rantai pasok global.

Back to latest news

LATEST