Story
Era Suku Bunga Tinggi: Emas Melonjak 32%, Bitcoin Justru Anjlok 46%

Kinerja Bitcoin (BTC) sangat kontras dengan emas di tengah era suku bunga tinggi yang baru, menantang narasinya sebagai aset lindung nilai. Selama setahun terakhir, ketika imbal hasil obligasi global mencapai level tertinggi sejak sebelum Bitcoin diciptakan, harga emas justru melonjak 32% sementara Bitcoin anjlok 46%.
Ujian Pertama di Lingkungan Suku Bunga Tinggi
Imbal hasil obligasi global kini telah mencapai level tertinggi sejak Juli 2008, beberapa bulan sebelum whitepaper Bitcoin dirilis. Aset kripto ini, yang lahir dari krisis keuangan 2008 dengan tujuan sebagai respons terhadap kegagalan fiskal pemerintah, kini untuk pertama kalinya diuji dalam lingkungan dengan biaya pinjaman yang begitu tinggi.
Kondisi makroekonomi ini menciptakan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Bitcoin. Imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara maju telah meningkat tajam. Menurut data Investing.com, imbal hasil obligasi 10 tahun Inggris mencapai 5,05%, Jerman naik ke 3,21% (tertinggi sejak 2011), dan imbal hasil obligasi 10 tahun AS berada di level 4,69%.
Imbal Hasil Riil Menekan Aset Tanpa Arus Kas
Tingginya imbal hasil riil—imbal hasil obligasi setelah disesuaikan dengan inflasi—menjadi tantangan utama bagi aset yang tidak menghasilkan arus kas seperti Bitcoin. Imbal hasil riil obligasi 10 tahun AS telah mencapai 2,41%, jauh lebih tinggi dari 1,77% dua tahun lalu. Hal ini berarti investor kini dapat memperoleh keuntungan di atas inflasi dengan risiko yang hampir nol melalui obligasi pemerintah.
AdKondisi ini membuat Bitcoin, yang saat ini diperdagangkan di sekitar $63.072, menjadi kurang menarik. Lelang obligasi 10 tahun Departemen Keuangan AS baru-baru ini mencatatkan imbal hasil tertinggi sejak 2001 di level 5,216%, yang mencerminkan permintaan pasar yang melemah. Investor global, seperti di Jepang dan Eropa, kini juga dapat memperoleh imbal hasil yang menarik di pasar domestik mereka, sehingga mengurangi kumpulan modal berisiko yang biasanya mengalir ke aset kripto.
Narasi Aset Aman yang Terbelah
Penyebab kenaikan imbal hasil menjadi faktor penentu. Jika didorong oleh pertumbuhan ekonomi, aset seperti Bitcoin akan tertekan. Namun, jika didorong oleh keraguan terhadap kemampuan pemerintah membayar utang, aset langka seperti emas dan Bitcoin seharusnya diuntungkan. Sejauh ini, emas tampaknya mendapat manfaat dari narasi kedua, terbukti dari kenaikannya yang signifikan.
Sementara itu, Bitcoin masih tertekan oleh tingginya biaya peluang (opportunity cost) akibat imbal hasil obligasi yang menarik. Kunci untuk melihat prospek Bitcoin ke depan adalah dengan mengamati permintaan dalam lelang surat utang negara. Jika permintaan terhadap obligasi jangka panjang menguat, tekanan terhadap harga Bitcoin berpotensi mereda. Namun, untuk saat ini, Bitcoin masih harus membuktikan nilainya dalam rezim suku bunga tinggi yang belum pernah dihadapinya.