Story
Saham Adobe Anjlok Akibat Proyeksi Pendapatan dan Perombakan Pucuk Pimpinan

Saham Adobe (ADBE) anjlok 2,8% dalam perdagangan pra-pembukaan setelah perusahaan merilis proyeksi pendapatan kuartal keempat yang berada di bawah ekspektasi analis. Penurunan ini terjadi meskipun Adobe melaporkan kinerja kuartal ketiga yang solid, menyoroti kekhawatiran investor terhadap lintasan pertumbuhan jangka pendek dan perubahan kepemimpinan yang akan datang.
Proyeksi Lemah Tutupi Kinerja Solid
Laporan keuangan Adobe untuk kuartal ketiga fiskal sebenarnya melampaui estimasi konsensus. Perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar $6,76 miliar dan laba per saham non-GAAP sebesar $6,13, keduanya sekitar 1% di atas perkiraan para analis.
Namun, sentimen positif dari kinerja tersebut tergerus oleh panduan (guidance) perusahaan untuk kuartal keempat. Titik tengah dari proyeksi pendapatan yang diberikan Adobe sedikit meleset dari angka yang diharapkan oleh Wall Street, sehingga gagal meyakinkan investor akan momentum pertumbuhan yang kuat di masa mendatang.
Transisi Kepemimpinan Picu Ketidakpastian
Menambah kekhawatiran investor adalah pengumuman perombakan kepemimpinan yang signifikan. CEO Shantanu Narayen, yang telah lama menjabat, akan beralih ke posisi Executive Chair mulai 1 Desember 2026. Posisinya akan digantikan oleh Anil Chakravarthy, yang saat ini mengepalai divisi Customer Experience Orchestration.
AdSelain itu, David Wadhwani, yang memimpin divisi kreatif andalan Adobe dan dianggap sebagai salah satu kandidat internal potensial untuk posisi CEO, juga akan meninggalkan perusahaan. Kepergian dua eksekutif senior secara bersamaan ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesinambungan kepemimpinan di tengah persaingan yang ketat.
Konteks Pasar dan Pandangan Analis
Penurunan saham Adobe terjadi saat pasar AS yang lebih luas justru bergerak lebih tinggi, menandakan bahwa saham ini berkinerja di bawah sektor teknologi pada umumnya. Analis di Morgan Stanley mempertahankan peringkat Underweight untuk saham ini dengan target harga $240, dengan alasan tidak adanya tanda-tanda pemulihan bisnis yang meyakinkan.
Investor terus mencermati beberapa isu utama, termasuk laju konversi pengguna gratis ke berbayar dan apakah pertumbuhan pendapatan berulang tahunan (ARR) dari produk berbasis AI—yang melonjak lebih dari 150% dari tahun ke tahun—dapat secara signifikan mengimbangi tekanan kompetitif pada bisnis inti Creative Cloud.