Story
Dolar AS Menguat di Tengah Eskalasi Tensi Timur Tengah, Permintaan Safe Haven Meningkat

Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada hari Selasa karena ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah mendorong permintaan terhadap aset *safe haven*. Perkembangan ini mengalihkan fokus pasar dari spekulasi kebijakan moneter dan kembali menyoroti status dolar sebagai aset perlindungan. Indeks Dolar, yang mengukur kekuatan *greenback* terhadap enam mata uang utama lainnya, tercatat naik 0,2% menjadi 101,10.
Eskalasi di Selat Hormuz Memicu Permintaan Aset Aman
Pemicu utama penguatan dolar adalah laporan mengenai serangan baru terhadap kapal-kapal tanker minyak di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran yang krusial. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan telah menerima laporan tentang serangan terhadap tiga tanker terpisah dalam 24 jam terakhir.
Sebagai respons, Departemen Keuangan AS mencabut lisensi utama yang mengizinkan produksi dan penjualan produk minyak mentah asal Iran. Menurut laporan Reuters dan Axios yang mengutip seorang pejabat AS, langkah ini merupakan tanggapan atas serangan tersebut. Eskalasi ini secara langsung mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 5% dan meningkatkan daya tarik dolar di tengah ketidakpastian global.
Fokus Investor Bergeser dari Kebijakan The Fed
Sebelum eskalasi geopolitik ini, prospek kebijakan moneter Federal Reserve menjadi pendorong utama pergerakan dolar. Pekan lalu, dolar sempat mencatat pelemahan harian terbesarnya sejak akhir April setelah rilis data pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan, yang mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga.
AdKini, para pelaku pasar menantikan rilis risalah pertemuan The Fed bulan Juni pada hari Rabu. Dokumen tersebut akan dianalisis secara cermat untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai pandangan para pembuat kebijakan tentang inflasi dan potensi kenaikan suku bunga di sisa tahun ini.
Pergerakan Mata Uang Utama Lainnya
Di pasar mata uang lainnya, pergerakan juga dipengaruhi oleh sentimen global dan faktor domestik:
- Euro (EUR): Melemah 0,3% terhadap dolar menjadi $1,1411. Data produksi industri Jerman yang lebih baik dari perkiraan gagal mengangkat euro setelah komentar bernada hati-hati dari pejabat Bank Sentral Eropa (ECB), Fabio Panetta, mengenai prospek ekonomi zona euro yang masih rapuh.
- Yen Jepang (JPY): Sempat menguat sesaat setelah data upah domestik yang positif, namun keuntungan tersebut cepat memudar. Pasangan USD/JPY tetap berada di dekat level terendah dalam 40 tahun. Terhadap poundsterling, yen bahkan jatuh ke level terlemah sejak 2007, meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap potensi intervensi dari otoritas Jepang.