Story
AS Akhiri Penyelidikan Impor Pesawat Tanpa Kenakan Tarif Baru

Departemen Perdagangan Amerika Serikat telah menyelesaikan penyelidikan terhadap impor pesawat komersial, mesin jet, dan suku cadangnya, namun memutuskan untuk tidak mengenakan tarif baru meskipun menemukan adanya risiko keamanan nasional. Keputusan ini diambil setelah adanya lobi intensif dari sektor penerbangan AS.
Temuan Investigasi
Laporan yang berasal dari penyelidikan yang dibuka tahun lalu menemukan bahwa industri pesawat terbang AS "terlalu bergantung pada rantai pasok asing, sehingga menimbulkan kekhawatiran keamanan nasional." Dokumen tersebut secara spesifik menyoroti risiko dari suku cadang pesawat impor yang berkaitan dengan kontrol kualitas dan potensi pemalsuan.
Meski demikian, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick merekomendasikan agar tidak ada tarif yang dikenakan untuk saat ini. Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Donald Trump telah mengarahkan negosiasi dengan mitra dagang untuk mengatasi dampak impor terhadap kesehatan industri dirgantara komersial AS, dan dapat mengambil tindakan dalam waktu enam bulan jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
AdLobi Industri dan Konteks Perdagangan
Keputusan untuk menahan tarif datang setelah berbagai pihak di industri penerbangan, termasuk Delta Air Lines dan kelompok dagang besar, memperingatkan dampak negatif tarif. Mereka berpendapat bahwa tarif dapat menaikkan harga tiket, mengganggu keselamatan penerbangan, dan merusak rantai pasok.
Sektor penerbangan AS secara historis menikmati rezim bebas tarif di bawah Perjanjian Pesawat Sipil 1979. Berdasarkan perjanjian ini, sektor tersebut mencatatkan surplus perdagangan tahunan sebesar $75 miliar. Laporan Departemen Perdagangan juga mencatat bahwa "tekanan kompetitif dari pemasok asing berbiaya lebih rendah memaksa perusahaan-perusahaan Amerika Serikat untuk menahan upah atau membatasi perekrutan."